MANUSIA SEMBILAN NYAWA

Image

Manusia dengan Sembilan nyawa? Kok kaya kucing ya? Mungkinkah ada manusia dengan nyawa sebanyak ini? Spontan dikepala kita tergambar manusia-manusia super hero dengan kekuatan supernya yang selalu siap menyelamatkan dunia dari para penjahat. Eiitts….. salah besar para pemirsa… manusia model begini cuma ada difilm-film alias karya imajinatif manusia. Nah.. balik lagi ke manusia Sembilan nyawa, ternyata manusia macam ini banyak lho ditemukan di Indonesia ?? Really ?? Yup…. Really. Setiap hari ternyata kita bertemu dengan manusia Sembilan nyawa, bahkan mungkin kalian sendiri adalah manusia tersebut. Nggak percaya?? Well … check this story out !!

Penasaran mau menemukan manusia dengan sembilan nyawa ini? Silakan buka mata anda dan lihat rimba raya lalu lintas Indonesia, disanalah kita akan menemukan manusia Sembilan nyawa berkeliaran setiap harinya. Manusia jenis ini tidak memperdulikan sesama pengguna jalan raya yang ada dikiri kanannya, mereka tidak memperdulikan keselamatan orang lain bahkan dirinya sendiri. Perlengkapan standart berlalu lintas seperti helm maupun sabuk pengaman bukan merupakan hal yang wajib bagi mereka. Rambu lalu lintas? Tentu saja mereka bisa membacanya, namun lain halnya dengan menghormati atau sekedar mematuhinya. Kalau tidak ada polisi yang mengawasi jalan raya untuk apa pula mematuhi rambu lalu lintas, toh peraturan itu dibuat untuk dilanggar! Disiplin dalam berlalu lintas jelas bukan dua kata yang ada dalam kamus kehidupan mereka. Bagi manusia jenis ini yang terpenting adalah sampai ditempat tujuan dengan cepat, tak peduli apabila dia menyusahkan bahkan mencelakakan  orang lain. Nah….. sudah mulai ring a bell?? Apakah anda pernah bertemu manusia semacam ini? Manusia yang ternyata makin hari kian banyak kita temukan di Indonesia.

 

KEMANA KAH HILANGNYA KEDISIPLINAN BERRLALU LINTAS?

Sebagai seorang ibu yang setiap harinya beredar dijalan raya, pertanyaan diatas muncul dalam benak saya setiap kali menyetir. Orang Indonesia yang dulu terkenal ramah dan penuh toleran sekarang menjelma menjadi monster super egois saat berada dijalan raya. Ribuan mobil dan motor lalu lalang dijalan Indonesia setiap harinya, semua dengan tujuannya masing-masing tetapi mereka melupakan betapa pentingnya untuk selalu waspada dan mematuhi semua rambu yang ada. Sepanjang berkendara kita melihat lampu merah namun tetap saja kita terjang dengan alasan buru-buru, rambu dilarang berhenti atau dilarang parkir berdiri dihadapan kita, tetap saja kita acuh memilih memarkirkan kendaraab kita disitu dengan alasan lebih dekat. Berbelok tanpa memberikan tanda, berhenti mendadak, lalai menggunakan helm standart ataupun sabuk pengaman. Semua itu hanya sebaris “dosa” dari ribuan kesalahan yang kita lakukan setiap harinya dijalan? Polisi lalu lintas? Ahh…. Gampang! Tinggal bayar dan semua urusan pun beres !! Masyaallah…..

Kemanakah sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama pengguna jalan? Tak hentinya pertanyaan itu mampir dikepala saya karena tak lagi saya temukan perilaku tersebut dijalan raya teru Setiap hari kita disuguhkan dengan bertita kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa banyak orang, mengapa itu belum juga menyadarkan kita? Dalam dua tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas ditama dipagi hari saat semua orang diburu waktu. Jalanan yang ukurannya tidak memadahi harus dijejali dengan ratusan orang yang satu sama lainnya tak mempedulikan kepentingan orang lain.

Kecelakaan di Indonesia oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan tuberculosis/TBC. Data WHO tahun 2011 menyebutkan, sebanyak 67 persen korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif , yakni 22 – 50 tahun. Terdapat  sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun. (www.bin.go.id) Selain korban kecelakaan lalu lintas lebih didominasi oleh usia muda dan produktif, sebagian besar kasus kecelakaan itu terjadi pada masyarakat miskin sebagai pengguna sepeda motor, dan transportasi umum. Data yang berbeda dari Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) menyebutkan, kecelakaan pengendara sepeda motor mencapai 120.226 kali atau 72% dari seluruh kecelakaan lalu lintas dalam setahun, Dengan korban yang demikian, dampak sosial kecelakaan lalu lintas akan menciptakan manusia miskin baru di Indonesia, terutama terjadi pada keluarga yang ditinggal suami dan atau orang yang sebelumnya menjadi penopang hidup keluarga.

Apa yang menjadi penyebab perilaku ini? Saat saya menuliskan ini pun saya masih dalam kegalauan karena belum berhasil menemukan jawaban yang tepat atas permasalahan ini kecuali egosime. Ya… egoism kita yang begitu besar menutup mata kita dari betapa perilaku kita berlalu lintas menentukan nasib orang lain sesame pengendara. Berkali-kali mobil saya menjadi korban keegoisan orang lain yang merasa jalanan adalah miliknya, tak perlu berhenti sejenak untuk memberikan jalan bagi orang lain atau sekedar mengalah dengan sedikit menepi, tidak. Bagi orang-orang egois tak terpikir melakukan hal tersebut karena mereka lah yang paling benar. Mereka tak ambil pusing apabila mobil atau motor kita menjadi korban keegoisan mereka, bahkan mereka tak turun untuk sekedar meminta maaf dan menyesali perbuatan mereka. “Aku lah raja jalanan…aku lah yang paling benar.” Itulah semboyan manusia dengan Sembilan nyawa .        Yang lebih menyedihkan hal semacam ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu. Tak jarang saya mendapati seorang ibu berkendara motor tanpa helm, berbelok tanpa memberi tanda, menyetir seenak hati sekaligus membawa anak mereka? Tidak kah mereka sadar mereka membawa nyawa orang lain, anak mereka sendiri? Apakah mereka begitu yakinnya kalau mereka akan kembali kerumah dengan selamat hari itu? Atau mereka yakin tak akan mencelakakan orang lain hari itu? Yang lebih aneh lagi, menurutku, saat kita tertib menggunakan semua standart keamanan seperti sabuk pengaman maupun orang akan menertawakan dan menganggap kita sok tertib dan sok alim. Bukan. Jelas bukan itu alasan saya tetap menggunakan helm ataupun sabuk pengaman sedekat apapun tujuan saja, bukan juga karena takut tertangkap polisi. Bagi saya kewajiban itu saya lakukan murni karena saya tahu nasib saya tergantung pada diri saya sendiri. Siapa yang akan menjaga kita bila bukan kita sendiri?

Selain tak mematuhi rambu lalu lintas, menurut saya ada lagi satu “kelebihan” pengendara di Indonesia. Semacet dan sesibuk apapun manusia Sembilan nyawa masih akan smepat menjawab telpon, sms, stau bahkan mengobrol dengan asyiknya sambil berkendara. Hebat ya?! butuh konsentrasi tinggi saat menyetir apalagi ditambah sambil ber sms dan bertelpon ria. Emang nggak bisa jawab telpon atau sms nya nanti?? Fo your information ya……kebiasaan macam itu ternyata amat sangat berbahaya. Penelitian yang dilakukan oleh GHSA (Governors Highway Safety Association), Amerika Serikat, menemukan bahwa menelpon atau ber-SMS pada saat mengemudi merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan di jalan raya. Penelitian Internasional pun mengungkapkan bahwa penggunaan ponsel saat mengemudi menyumbangkan satu dari setiap empat kecelakaan lalu lintas. Bahaya penggunaan ponsel saat berkendara bukan pada cara kita menggunakannya (termasuk memakai handsfree), melainkan lebih pada topik pembicaraan atau apa yang sedang kita bicarakan saat itu. Jadi bahayanya adalah karena otak pengemudi dipaksa berpikir hal penting lainnya saat mengemudi, sehingga konsentrasi menjadi terpecah.

 

  1. Menggunakan HP saat berkendaraan ternyata jauh lebih berbahaya daripada berkendaraan saat mabuk.
  2. Ber SMS saat berkendara 6 (enam) kali lebih memungkinkan menyebabkan kecelakaan dibandingkan berkendara saat mabuk.
  3. Hampir 23% kecelakaan disebabkan oleh menelpon pake HP saat berkendara.
  4. Berkendara sambil menelepon bisa membuat otak bereaksi (meski masih remaja) seperti otak para manula yang berusia 70 tahun.

Undang-Undang No. 22 tahun 2009 Tentang Lalu-Lintas Dan Angkutan Jalan Pada Pasal 283 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 menyebutkan:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”

Sementara pada Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No.22 Tahun 2009 sendiri berisi:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”Dalam keadaan tertentu yang sangat urgent/darurat apabila ada telepon atau SMS penting, alangkah baiknya apabila kita menepi terlebih dahulu untuk menerimanya, demi keselamatan diri sendiri juga orang lain.

Nyawa manusia…umur kita…. Hanya Allah lah yang tau, tapi bukan berarti kita tidak berusaha menjaga diri dengan baik dengan berkendara seenaknya dengan mengabaikan rambu lalu lintas dan pengendara lain. Kita lah yang u jawab atas kehidupan kita sendiri, minimal itulah pedoman yang harus selalu kita anut saat berlalu lintas. Saat berkendara kita semua berharap akan kembali kerumah dengan selamat dan berkumpul lagi dengan keluarga, begitu pula dengan pengendara lain. Maka patuhlah pada rambu lalu lintas dan bertoleransi dengan sesama pengguna jalana bukan karena takut ditangkap polisi namun karena kita berharap masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta. Apabila jarak kantor ataupun kampus anda jauh maka berangkatlah lebih awal sehingga anda tak perlu memotong jalan oranng lain. Berikan kemudi pada orang lain apabila anda merasa ngantuk, lelah, ataupun mabuk karena menyetir dalam keadaan ngantuk dan mabuk dapat membahayakan nyawa orang lain dan nyawa anda sendiri.  

Semoga setelah membaca tulisan ini muncul sedikit kesadaran kita untuk mulai patuh berlalu lintas dan mengesampingkan egoisme saat berkendara. Bila bukan untuk diri sendiri maka pikirkanlah orang tua, suami, istri, anak, maupun orang –orang tercinta yang menunggu kita dirumah. Semoga kita semakin dewasa dalam berlalu lintas dan saling menghargai sesama pengendara. Jangan lupakan pesan mbak-mbak polwan nan jelita yang setiap pagi menyapa dan mengingatkan kita untuk selalu menjadi “Pelopor keselamatan berkendara dan tertib berlalu lintas.” Happy driving. J

Advertisements

8 thoughts on “MANUSIA SEMBILAN NYAWA

  1. aku juga sebel sama orang yang menelepon atau ber-sms saat berkendara, mobil atau motor, Menyebalkan! Sayangnya pemerintah belum tegas menindak sih, jadi ya orang seenaknya sendiri, Kita yang ngingetin kadang malah dianggap aneh. Hadeuhh!! 😦

    Like

  2. Pingback: MANUSIA SEMBILAN NYAWA | momtraveler's Blog

  3. Masalahnya kalo kita hati-hati pun dianggap jadi penghalang bagi mereka yang diburu waktu. Sekarang memang semua pengen menang sendiri, baik hal kecil seperti dijalan maupun untuk hal-hal besar

    Like

    • YAAAAYYYY…… senengnya dikoment ma bunda Lahfy…makasih ya bun. lagi butuh banyak masukan ni… masih pemula banget. ngomong2 soal manusia sembilan nyawa..kalo nemu yang model begitu pas bunda dijalan tolong dikalkson keras2 ya heheheh……

      Like

  4. yah, inilah wajah manusia indonesia sekarang ini, miris memang, tapi tiap hari saya melihatnya. soalnya tinggal di jakarta, kota macet, kota paling tidak disiplin dibandingkan dengan kota – kota yang sebelumnya pernah saya tinggali atau singgah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s