Bye…..bye…. LDM

nadiakumy wedding
Pernah merasakan ataupun mengalami LDM alias long distance relationship (hubungan jarak jauh)? Kalau pacaran berjauhan mungkin masih nggak terlalu berat ya karena belum ada ikatan apapun, tapi kalau long distance marriage? Well…I’ve been there.

Thanks to globalization dan tuntutan hidup yang kian besar, makin banyak pasangan menikah yang memutuskan untuk menempuh jalan ini, kami adalah termasuk salah satunya. Lima tahun lebih saya dan suami menjalani pernikahan jarak jauh yang rasanya amat sangat menyebalkan. Sebuah pilihan sulit dimana kami harus memulai perjalanan panjang dan melelahkan sejak hari pertama pernikahan kami.

Kami memutuskan menikah saat saya masih menyelesaikan S2 di UGM, sedangkan suami sudah bekerja di Surabaya, jadi saat itu nggak ada pilihan lain selain menjalani pernikahan jarak jauh. Jumat sore setelah selesai bekerja, suami saya bergegas mengejar bis malam untuk mengunjungi saya di Jogjakarta. Pada awalnya saya merasa ini kompromi yang baik, saya berkonsentrasi menyelesaikan kuliah secepatnya dengan harapan dapat segera menyusul setelah wisuda, sedangkan suami tetap pada pekerjaannya yang sudah mulai mapan. Setiap kali ketemu rasanya seperti masih pacaran aja, setiap weekend jalan berdua menikmati keindahan Jogjakarta persis seperti layaknya ABG yang lagi kasmaran hehehe. Selain berkompromi untuk hidup terpisah sementara waktu, kami juga sepakat untuk menunda kehamilan sampai saya selesai kuliah, tapi rupanya Allah berkehendak lain. Empat bulan setelah menikah, saya hamil. Disinilah kami mulai merasakan beratnya pernikahan jarak jauh.

Delapan bulan masa kehamilan saya lalui dengan penuh kesepian dan kesendirian, tanpa suami yang siap menjaga dan membantu. Syukurlah ada teman-teman yang dengan baik hati menjemput dan mengantar saya kekampus setiap hari karena mereka nggak tega lihat bumil naik turun bis kota setiap hari karena saya memang nggak bisa naik motor. Saat-saat yang paling menyebalkan adalah saat saya kehilangan suami untuk berbagi, membelikan makanan yang saya inginkan, atau sekedar memijat punggung dan kaki yang mulai sering pegal. Semua kesulitan dan kebahagiaan dimasa itu saya rasakan sendiri (kecian banget ya).Stress yang saya alami mulai meningkat saat kehamilan masuk bulan ketujuh. Saya mengalami gangguan asma yang cukup berat padahal disaat yang bersamaan saya harus menyelesaikan bertumpuk tugas dan proposal thesis.

Akhirnya memasuki bulan kedelapan kehamilan, saya memutuskan untuk pulang ke Semarang sampai saat melahirkan, tapi sebelumnya saya menghubungi semua dosen dan memohon agar diizinkan untuk mengirimkan tugas via email dan terpaksa melewatkan beberapa presentasi karena memang saat itu saya merasa lelah dan stress berat. Tepat sehari setelah saya kembali kerumah orang tua di Semarang, ketuban saya pecah sehingga bayi harus segera dilahirkan. Alhamdhulilah bayi perempuan saya terlahir sehat lewat operasi Caesar meskipun berat lahirnya cukup kecil (2, 55 kg) karena memang usia kehamilan saat itu belum mencukupi. Lagi-lagi proses kelahiran yang sangat mendadak ini harus saya lalui sendiri karena suami jauh dan tidak bisa mendampingi. Hari itu bertepatan dengan Idul Adha sehingga suami nggak berhasil mendapatkan tiket dan baru datang keesokan harinya (ngenes.com). Suami sangat kecewa karena melewatkan momen kelahiran dan mengadzani anak pertama kami. Ayah saya lah yang mengadzani Nadia pertama kali dan suami baru bisa melakukannya keesokan hari. Sedihnya tak hanya momen berharga ini yang terlewat olehnya tapi juga banyak momen berharga lainnya seperti senyuman pertama, gigi pertama, dan langkah pertama Nadia.

Setelah kelahiran Nadia saya memutuskan untuk tinggal di Semarang, sambil bolak-balik Semarang-Jogjakarta untuk menyelesaikan thesis. Alhamdhulilah meskipun agak terlambat dari teman-teman seangkatan, saya berhasil menyelesaikan kuliah. Nggak sabar rasanya untuk bisa segera menyusul ke Surabaya. Sayangnya kondisi keuangan memaksa kami untuk meneruskan hubungan jarak jauh dulu karena belum ada dana untuk mencicil rumah dan suami nggak mau mengontrak. Saat itulah datang tawaran mengajar disebuah uuniversitas swasta di Semarang untuk saya. Mengajar adalah cita-cita saya dari dulu karena itulah tawaran itu langsung saya terima dengan penuh semangat. Saya pikir beberapa tahun lagi menjalani long distance marriage bukanlah masalah besar, toh kami sudah berhasil selama ini dan Nadia masih kecil jadi berjauhan dengan ayahnya bukanlah masalah besar. Ternyata saya salah besar !!

Memasuki tahun ketiga pernikahan kami makin tengeelam dalam karir masing-masing. Kadang saat suami pulang saya harus mengajar sehingga tak bisa bertemu, sedangkan saat saya libur gantian suami yang sibuk lembur. Pernikahan pun rasanya jadi aneh dan hambar. Komunikasi yang dulu cukup intens jadi kian berkurang, kalaupun ada rasanya kurang berkualitas. Ulang tahun pernikahan, ulang tahun kami, bahkan ulang tahun Nadia berlalu begitu saja tanpa ada kenangan karena jarak yang memisahkan. Suami pun mulai mengeluh capek harus bolak-balik Surabaya-Semarang setiap minggu belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkannya demi bertemu kami sehingga tabungan kami tak pernah bertambah.

Sayangnya saat itu saya masih begitu mencintai pekerjaan saya sehingga saya menolak untuk menyusul ke Surabaya. Tak mudah menemukan pekerjaan di Semarang karena UMR disana cukup rendah sedangkan posisi suami saat itu sudah cukup bagus sehingga dia pun enggan melepas pekerjaannya. Berkat keegoisan kami itulah empat tahun awal pernikahan kami lalui dengan banyak perselisihan dan tanpa banyak kenangan berarti. Bumbu-bumbu sedap diawal pernikahan yang banyak dialami pasangan pengantin baru merupakan barang yang cukup langka bagi kami. Keadaan ini sama sekali bukan sebuah pernikahan yang dulu pernah kami rencanakan dengan penuh semangat.

Diawal tahun kelima pernikahan sebuah peristiwa menyadarkan kami. Nadia yang sudah mulai memahami situasi selalu menangis setiap kali ayahnya bersiap kembali ke Surabaya. Nadia akan memegangi ayahnya erat-erat sambil menangis sekuat tenaga karena takut kehilangan ayahnya. Situasinya persis seperti adegan sinetron yang penuh tangisan histeris, belum lagi wajah suami yang muram luar biasa saat harus berpisah dengan kami. Akibat situasi ini Nadia tumbuh menjadi gadis yang kurang percaya diri, penakut, juga cengeng. Dia akan ketakutan bila bertemu orang baru, sulit bersosialisasi dengan teman sebayanya dan sangat sulit makan. Berat badanya tak juga bertambah apapun usaha yang saya lakukan.

Nggak cukup sampai disitu, suami pun sempat terkena Demam Berdarah dan lambungnya luka akibat jadwal makan yang nggak teratur dan stress sehingga harus opname di Rumah Sakit. Wah….. penderitaan yang komplit saya rasakan saat itu. Semua itu akhirnya menyadarkan saya, kalau saya tidak segera mengambil tindakan entah apa yang akan terjadi pada pernikahan kami.

Setelah memohon petunjuk Allah dan diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk mengakhiri keegoisan kami dan mulai memikirkan perkembangan Nadia dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan rumah tangga kami. Kami sepakat untuk membuka lembaran baru dan memperbaharui pernikahan kami yang bisa dikatakan berada dalam status siaga. Kami sepakat menggunakan semua tabungan kami untuk membayar uang muka rumah dan saya memutuskan utuk berhenti bekerja dan menyusul ke Surabaya. 20 Januari 2012 adalah pertama kalinya kami merayakan ulang tahun pernikahan bersama-sama dengan penuh rasa syukur karena akhirnya kami bisa berkumpul dan menjadi keluarga seuutuhnya.

Hidup baru dalam rumah baru sungguh menyenangkan. Kami sangat bersemangat menata rumah kami senyaman walaupun dengan budget yang minimalis hehehe…. Pokoknya kami ingin menjadikan rumah ini sebagai surga tempat kami menemukan semua kebahagiaan dan cinta. Kami pun meluangkan waktu sebanyak mungkin bersama Nadia, menyemangatinya, mencurahkan seluruh cinta dan perhatian semata hanya untuk Nadia. Sedikit demi sedikit sifat pemalu dan penakut Nadia mulai hilang, bahkan selera makannya pun tumbuh. Alhamdhulilah sejak kami berkumpul di Surabaya fisik dan psikis Nadia berkembang dengan sangat baik, berat badanya pun terus meningkat.

Tak hanya bunga-bunga yang bermekaran ditaman rumah kami, namun juga dihati kami. Berkah pernikahan sungguh sangat terasa, dan kami sungguh bersyukur karenanya. Andai saja saya bersikeras mengejar karir entah apa jadinya keluarga kami. Saya tidak menyesal meninggalkan pekerjaan yang saya cintai karena Allah telah menggantinya dengan kebahagian yang berlipat-lipat. Benih-benih pengorbanan yang dilandasi dengan keihklasan akhirnya menuai kebahagiaan yang teramat sangat. Bahagia rasanya bisa melihat senyuman anak dan suami setiap harinya, melihat mereka menikmati masakan saya dengan lahapnya, sungguh perasaan yang luar biasa indah melebihi apapun. Setiap weekend kami akan jalan-jalan bertiga mengejar semua waktu dan momen yang telah kami lewatkan saat kami berpisah. Tak salah apa yang dikatakan Rasulullah bahwa menikah adalah melaksanakan separuh agama dan mendatangkan rizki. Sejak berkumpul semua terasa lebih ringan dan mudah. Kesedihan dan kebahagiaan ditanggung dan dijalani bersama.

Tak pernah sedikitpun saya menyesali keputusan yang kubuat karena kini telah berhasil menyemai bahkan memanen semua cinta yang bisa saya dapatkan dari dua orang tercinta setiap harinya. Semoga Allah senantiasa mengeratkan tali pernikahan kami dengan sakinah mawwadah dan rahmah Nya serta melimpahi kami dengan rizki yang halal. Mohon doanya semoga keinginan Nadia memiliki adik laki-laki segera tercapai ya. 

Menyemai Cinta
Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

Advertisements

22 thoughts on “Bye…..bye…. LDM

  1. Kisah yang sama denganku mba, bedanya cuma tadinya base jakarta kantor suami tapi selalu travelling world-wide, akhirnya mencari perkerjaan yang bukan travelling tapi ternyata harus pindah ke negri tetangga. Daku juga akhirnya melepas pekerjaan yg juga my passion sbg dosen, dan menjadi ibu rumah tangga, demi anak2 bisa merasakan hidup lengkap diantara ortunya.
    Life is a choice, berdoa semoga senantiasa diberi kemudahan Allah SWT

    Like

  2. Muna nikah bulan januari 2007 kalo gak salah ya…kita lagi aktif kuliah S2….hahahahhahahaha…..Muna hamil Nadia pas Semester kedua S2 ya…kita stress dgn makul American Theories ….oohhh wonderful memories….

    Like

  3. Assalamu’alaikum mbak Muna..
    Perkenalkan, saya Rinta dari Banyuwangi
    Mbak dulu lulusan S2 Kajian Amerika atau Ilmu Linguistik UGM mbak?
    Mbak, saya boleh minta kontak mbak?
    Bisa no.HP atau pin mungkin mbak?
    Ada hal yg sangat ingin saya tanyakan ke mbak Muna
    Sebelumnya mohon maaf mengganggu waktu mbak Muna

    Wassalamu’alaikum..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s