Cerita dari Danau Toba

Alhamdhulilah wasyukurilah, dari perjalanan pulang kampung ke Aceh diakhir bulan Juni 2013 kemaren, kesampean juga keinginan menginjakkan kaki di Danau Toba. Sebenernya perjalanan ke Medan kali ini agak mendadak sih tapi berkat kebaikan kakak-kakak ipar yang ada di Aceh dan Medan, cita-cita traveling ke Berastagi dan Danau Toba bisa terlaksana dengan budget yang cukup miring (yesss!!!!).

DSC_0669

Danau Toba dikala Senja, sayang agak mendung

1 Juli 2013, setelah sebelumnya bersilaturahmi dengan keluarga besra suami di Aceh, kami berangkat dari Medan menuju Danau Toba. Tadinya kukira perjalanan cuma makan waktu 2-3 jam, eh ternyata butuh waktu hampir 6 jam dari Medan untuk mencapai Toba. Lumayan melelahkan juga tapi sambil menikmati kota-kota yang belum pernah kukunjungi sebelumnya perjalanan jadi terasa menyenangkan. Sepanjang perjalanan dari Medan – danau Toba ada satu hal yang sangat berbeda dari Pulau Jawa. Kalau disemua sudut tanah Jawa sudah dipadati manusia, lain halnya dengan di Pulau Sumatra. Disepanjang jalan kita akan banyak bertemu dengan perkebunan sawit yang hijau dan rindang dan jarang sekali ada perumahan disekitarnya. Selain itu, dipinggir jalan banyak sekali pedagang yang menjual lemang. Lemang itu sejenis makanan yang terbuat dari ketan yang dibakar didalam buluh bamboo, rasanya khas banget. Pengen sih berhenti dan mencoba makanan khas dari tanah Sumatra ini, tapi karena kakak iparku udah nyiapin bekal yang segunung jadi dengan berat hati kulewatkan ibu-ibu penjual lemang tadi, hiks…..

Oya satu ciri khas lain sejak kedatanganku ke Medan hingga mendarat di Toba itu adalah penduduknya yang beragam, dengan dominasi utama adalah suku Melayu dan Batak. Dominasi kedua suku ini sangat terasa dari budaya yang bisa kita lihat disini. Dari bahasa, seni arsitektur sampai kulinernya dipengaruhi oleh suku Melayu dan Batak. Nah berhubung didaerah Toba dominasinya penduduknya adalah orang Batak, buat kita yang muslim harus hati-hati dalam memilih makanan ya. Ada si restoran Padang, tapi denger-denger penjualnya juga belum tentu Muslim (jadi rada ngeri2 gimana gitu). Daripada was-was kakak iparku yang nyiapin semua perbekalan. Dari nasi sampai buah-buahan lengkap dibawanya hehehehe….  Memang kakak-kakakku tersayang ini baik banget sama adek kecilnya, mo ikut bantuin aja nggak boleh, apa mungkin mereka tahu kalau aku bantu malah bikin kacau ya, hehehhe…  Wes lah pokoknya  liburankku kali ini nggak bisa dibilang backpacking sama sekali, secara bawaannya segunung.

DSC_0695

Nadia and her cousins

Ok… setelah hampir 6 jam perjalanan darat sampai lah kita didaerah Parapat, sebuah kota yang bersisian Danau Toba. Begitu masuk Parapat, kami langsung disambut monyet-monyet yang hidup liar dihutan yang mengelilingi daerah tersebut. Meskipun liar mereka ramah lho apalagi kalo kita kasih makan (ya iya lah…siapa juga yang nggak jadi ramah kalo dikasih makanan gratis ya hehehe). Nadia bawaannya udah pengen turun dan megang monyet-monyet itu, lebih parah lagi mau bawa pulang satu. Haddeeeehhhh…cukup satu kucing aja nak dirumah.

Tadinya aku pikir tempat ini akan ramai pengunjung karena bertepatan dengan liburan anak-anak sekolah, tapi ternyata  nggak tuh. Danau Toba terbilang sepi meskipun menjadi salah satu objek wisata andalan Sumatra. Alhamdhulilah lah, jadi malah bisa menikmati Danau ini sepuas hati. Berhubung sudah sore, sambil menunggu magrib kami main-main dipinggir danau. Belum juga 10 menit, baju Nadia udah basah kuyup. Nadia emang paling nggak bisa liat air nganggur, begitu liat air yang jernih dan biru langsung lah dia menceburkan diri. Nggak apa-apa lah sekali-sekali, di Sidoarjo mana ada danau yang begini?? Heheheh….

DSC_0708

Masuk waktu magrib, kami check in mess yang sebelumnya sudah dibooking kakak ipar. Bangunan mess nya memang sudah cukup tua, tapi lumayan lah, cukup asyik juga buat nginep rame-rame sekeluarga. Malam hari kami habiskan di mess dengan menikmati masakan buatan kakak sambil nostalgia, cerita-cerita tentang mamak dan ayah mertua semasa hidup dulu (semoga Allah mengampuni dosa mereka dan menepatkan mereka disisi Nya, amiin). Memang suamiku punya keluarga yang lumayan besar. Suami adalah anak ke sepuluh alias anak bungsu, jadi kebayang kan gimana ramenya kalau semuanya ngumpul. Berasa satu kecamatan ngumpul dirumah mamak hahaha….

Keesokan harinya setelah sarapan pagi kami langsung cabut dari mess menuju Pelabuhan Ajibata untuk mencari kapal yang bisa kami sewa seharian. Ada si kapal ferry yang lumayan murah 90.000 untuk satu mobil, tapi mereka nunggu penumpang penuh. Berhubung hari itu sepi kami memilih kapal ferry yang khusus untuk wisatawan tanpa mobil. Tariff kapal ferry disini rupanya mahal banget, belum lagi kapalnya nggak mau jalan sebelum penumpang penuh (kayak angkot ya). Alhamdhulilah setelah negosiasi alot, tercapailah kesepakatan. Rp 500.000 untuk satu hari keliling Danau dengan syarat kapal ferry nya nggak boleh ngangkut penumpang lain. Sama aja kan sebenernya, mereka dapet 500.000 dari kami atau nggak dapet penumpang sama sekali karena hari itu memang sepi. So I guess it was a win win situation.

DSC_0729

Purple family 😉

DSC_0780

mejeng.com

Subhanallah….. rasanya nggak pernah berhenti mengucap kata ini setiap kali mata ini memandang indahnya danau Toba. Makasih ya Allah sudah membawaku sampai ketempat yang indah ini. Setelah 45 menit perjalanan dengan kapal ferry sampailah kami di Tomok, sebuah desa kecil di Pulau Samosir. Di Tomok sudah berjajar para penjual souvenir khas Toba yang bisa bikin kalap. Eits…. Jangan langsung heboh belanja. Disini agak beda dari pasar Seni Sukawati yang ada di Bali. Kalau di Bali penjual bisa ditawar dengan relative mudah, beda halnya dengan di Tomok. Barang-barang disini cukup mahal dan agak susah nawarnya, jadi belanja oleh-oleh secukupnya aja ya.

DSC_0794

nadia yang lagi bete karena nggak dibeliin gelang Hello kity

Sebenernya kalau ada waktu lebih banyak, alangkah inginnya diriku mengunjungi air terjun sipiso-piso yang jaraknya dari Tomok kurang lebih 2 jam. Tapi berhubung keesokan harinya aku sudah harus balik ke Surabaya jadi nggak ada waktu lagi berkunjung kesana. Nah berbeda dengan perjalanan kita menuju Tomok yang tenang dan damai, siang itu danau Toba berombak cukup tinggi. Aku sempet heran juga kok bisa ya danau berombak sekencang ini. Eh belum selesai herannya, pas lagi jagain anak-anak yang main dipinggiran ferry, tiba-tiba ada ombak besar yang menggeser seluruh kursi penumpang dikapal ferry. Alhamdhulilah ditengah kepanikan, aku dan suami masih bisa megangin anak-anak yang kursinya hampir membentur dinding ferry. Syukurlah kami semua baik-baik aja. Ternyata nggak lama setelah mendarat sepupu yang tinggal di Takengon menelpon dan mengabarkan ada gempa besar menimpa bumi Aceh tercinta.  Mungkin ombak besar tadi ada hubungannya juga dengan gempa Aceh, tapi nggak tau juga si. One thing for sure all of our family were fine, alhamdhulilah.

DSC_0800

Rumah adat Karo yang ada didesa Tomok

DSC_0765Akhirnya jam 6 sore kami cabut dari Parapat lengkap dengan kenangan indah yang nggak akan terlupakan seumur hidup. Semoga suatu hari nanti Allah membawaku, abang, dan Nadia kembali lagi kesini, amiiinn… kurang lebih jam 00.00 kita nyampe kerumah kakak di Medan. Sepanjang jalan anak-anak langsung tepar, termasuk aku hehehe…. Alhamdhulilah seru sekali liburan kali ini. Niatan utamanya silaturahmi keluarga eh dapet bonus jalan-jalan gratis ke Berastagi dan Danau Toba. Memang janji Allah itu selalu benar. Udah dapet pahala karena silaturahmi dapet bonus jalan-jalan juga. Terima kasih ya Allah

DSC_0816

Advertisements

One thought on “Cerita dari Danau Toba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s