Ramadhan yang Penuh Perjuangan

”Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: Rasulullah pernah bersabda: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu neraka ditutup, setan- setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya  (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).”

 

Bulan Ramadhan selalu jadi bulan favorit yang kutunggu-tunggu kehadirannya. Bagaimana tidak, begitu banyak diskon ampunan dan obral pahala yang Allah tawarkan pada umat Nya. Kalau diskon yang ditawarkan mall-mall membuat kita semangat belanja sampai rela berdesak-desakan di midnight sale, apalagi obral yang diadakan oleh Sang Pencipta Semesta Alam? Pastinya aku akan memanfaatkan momen Ramadhan sebaik mungkin.

Setiap momen Ramadhan selalu berkesan bagiku. Selalu saja ada kenangan dan kisah yang tak terlupakan, namun satu yang paling berkesan bagiku adalah menjalani Ramadhan pertama sebagai calon ibu ditahun 2007 lalu. Lumrahnya, pasangan suami istri baru akan menikmati momen Ramadhan pertama mereka dengan berbagai aktivitas, tapi tidak bagi kami. Saat itu kami terpaksa menjalani long distance marriage karena aku sedang menempuh pendidikan S2 di UGM sedangkan suami bekerja di Surabaya.

si tembem Nadia umur 4 bulan

si tembem Nadia umur 4 bulan

Kala itu usia kandungan saya sudah memasuki bulan ketujuh. Karena merasa sehat maka kuputuskan untuk berpuasa. Beberapa hari mencoba berpuasa, alhamdhulilah tak ada kendala apapun. Demi menjaga asupan kalori, saat sahur kubiasakan minum segelas susu dan makan dalam porsi yang cukup besar begitu pula saat buka puasa. Alhamdhulilah aku nggak merasa berat menjalankan puasa, aktivitas tetap berjalan seperti biasa kecuali untuk tarawih. Aku lebih memilih untuk shalat tarawih sendiri dikontrakan selain karena kaki yang mulai membengkak juga karena lokasi masjid yang lumayan jauh. Toh bagi wanita nggak ada kewajiban shalat dimasjid, yang penting aku sudah berusaha menjalankan semua ibadah sebaik mungkin.

Untuk sahur kugunakan jasa catering dari warung langganan, sedangkan untuk menu buka puasa, aku mencari sendiri. Saat sore hari aku biasa berkeliling kompleks berjalan mencari menu buka yang kuinginkan, lumayan sambil olah raga ringan sekalian ngabuburit. Bila suami datang berkunjung barulah kami ngabuburit keliling kota Jogjakarta sambil mencari menu berbuka puasa. Apabila tidak ada jadwal kuliah, aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian dikontrakan sambil membaca Al Quran dan buku-buku dari perpustakaan maupun koleksi pribadi. Alhamdhulilah target untuk mengkhatamkan Al Quran berhasil hingga dua kali. Dalam kesendirian ibadah kulakukan dengan lebih khusyuk meskipun tak jarang timbul juga rasa sepi karena harus melewati Ramadhan sendirian.

Sebisa mungkin kuusahakan menikmati Ramadhan dalam kesepian. Menyibukkan diri dengan meningkatkan ibadah adalah pilihanku. Masalah mulai timbul dipertengahan Ramadhan. Diuusia kehamilan yang kian bertambah, penyakit asma yang kuderita sejak kecil sering kali datang. Hampir setiap malam aku terbangun karena asmaku kambuh, bahkan beberapa kali harus dilarikan ke UGD. Untung lah saat-saat kritis itu terjadi selalu ada sahabat yang datang membantu ataupun suami yang saat itu sedang datang berkunjung, sehingga aku tak perlu mengalami penderitaan seorang diri. Saat itu aku cuma bisa berdoa sepenuh hati agar janinku baik-baik saja dan tidak menuruni penyakit ini kelak.

Dimalam hari terkadang aku merasakan kesepian yang teramat sangat. Tak ada teman untuk berbagi bahkan untuk sekedar bercerita dan bercanda. Belum lagi kandungan yang membesar dan kaki yang mulai bengkak membuat semua posisi terasa salah. Kadang kubayangkan alangkah indahnya andai bisa menjalani Ramadhan bersama orang-orang terkasih. Aku nggak punya pilihan lain selan menumpahkan semua keluh kesah kepada Allah.

Sebuah musibah menimpa ketika aku terserempet mobil saat sedang berjalan kewarung untuk membeli menu buka puasa. Sore itu Jogjakarta diguyur hujan deras, listrik padam sedari siang sehingga lalu lintas kacau. Beberapa mobil pribadi memilih memotong jalan dengan memasuki gang-gang kecil. Sebenernya males juga rasanya mau keluar rumah tapi karena memang harus cari makan untuk buka puasa terpaksalah pergi juga (balada anak kos hehehe). Saat sedang asyik berjalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menyerempetku. Subhanallah entah bagaimana caranya aku masih bisa berpegangan pada sebuah batang pohon sehingga luka kuderita tak terlalu parah dan kandunganku pun baik-baik saja. Sayangnya pengendara mobil itu tak mau repot-repot berhenti dan menolongku.

 Semua penderitaan dan kesepian itu akhirnya berakhir saat Idul Fitri. Dari 30 hari Ramadhan hanya 3 hari puasa yang tidak bisa kuselesaikan. Berkat pertolongan Allah, aku dan bayiku baik-baik saja hingga hari kelahiran. Dengan bergantung pada Allah semata semua kesulitan dan kepedihan tak akan terasa berat dijalani. Semoga ditahun-tahun mendatang Allah senantiasa memberikan kami sekeluarga kemudahan dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Amiinn.

GA karina

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat

Advertisements

13 thoughts on “Ramadhan yang Penuh Perjuangan

  1. Huee mbaak..aku gak bisa bayangin deh LDR dalam kondisi hamil gede gitu.
    Ngerii pas baca yang kesempret itu. Untung Nadia baik2 saja ya 🙂
    Alhamdulillah masih dilindungi Allah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s