Wisuda Keduaku

Dalam hidup manusia, suka dan duka sudah pasti menjadi bumbu keseharian. Kadang ada senyum dan tawa menghiasi hari, tak jarang pula air mata duka membawa mendung hitam dan meninggalkan galau. Aku pribadi nggak suka berlarut-larut dalam kesedihan karena semua peristiwa pasti memiliki hikmah yang terkandung didalamnya. Daripada menangisi kesedihan alangkah lebih menyenangkan apabila kita berbagi suka dalam kehidupan, syukur-syukur kalau kebahagiaan itu bisa menular ke orang lain.

Kalau berbicara soal kenangan indah dalam hidupku, wahh rasanya banyak sekali yang ingin kuceritakan. Salah satu hari terbahagia sekaligus terlega dalam hidupku adalah hari wisuda keduaku. Wisuda? Kayanya biasa aja ya, jaman sekarang, anak Play Group aja diwisuda hehehe… Wisuda emang biasa aja, hampir semua orang pernah merasakan kebanggaan saat berbalut baju toga, menerima ijazah yang telah kita perjuangan selama masa kuliah.  Wisuda mungkin hal biasa buat banyak orang tapi buatku wisudaku yang kedua ini terasa berbeda.

Nah kalo ngomongin wisuda kayanya selalu satu paket dengan perjuangan menyelesaikan skripsi ya. kalau jaman S1 dulu alhamdhulilah proses skripsi berjalan lancar, aman, dan terkendali. Alhamdhulilah hanya dalam waktu empat bulan skripsi beres dan langsung wisuda. Proses yang lancar jaya itu ternyata nggak terjadi waktu aku melanjutkan studi S2 di UGM. Bukan karena  dosennya killer atau aku males kuliah lho, tapi karena saat itu aku baru menjadi seorang ibu.

Bayangkan punya bayi yang lahir dengan berat minimalis (2,55kg), harus berjuang menaikkan berat badan si bayi secepatnya, berkomitmen pengen ASI eksklusif, tapi disaat yang bersamaan harus menyelesaikan thesis dengan dua orang dosen yang super sibuk!! Selepas melahirkan, aku dan suami masih melanjutkan episode long distance marriage (cerita lengkapnya baca disini), hanya bedanya aku memutuskan kembali ke Semarang dan meninggalkan paviluin kontrakan kami di Jogjakarta. Alesan utamanya pasti lah karena budget. Aku nggak tega lihat suami yang penghasilannya masih mepet harus membiayai dua dapur, belum lagi sekarang sudah ada anak kami Nadia. Kalau dinalar dengan logika manusia mustahil rasanya kami bisa bertahan dengan penghasilan suami waktu itu, tapi alhamdhulilah Allah selalu mengirimkan rezeki dari pintu yang nggak pernah disangka-sangka.

Alhamdhulilah keputusan pulang ke Semarang cukup membantu karena dirumah ada ibu yang siap membantu. Satu hal yang cukup sulit adalah aku harus bolak balik Semarang-Jogjakarta selama proses menyelesaikan thesis. Dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali aku ke Jogjakarta untuk sekedar bertapa dibeberapa perpustakaan di UGM. Ini jadi perjuangan berat karena aku bertekad untuk memberikan ASI eksklusif pada Nadia. Dengan berat lahir yang rendah aku yakin banget Cuma ASI yang bisa membantu Nadia. Dimasa itu aku jadi omnivore sejati, apapun kumakan demi meningkatkan produksi ASI, diet terpaksa dilupakan.

Sebelum berangkat ke Jogja aku memerah ASI dan memastikan stok Nadia cukup untuk sehari. Untuk persediaan satu hari aku siapkan dua sampai tiga botol ASI, Alhamdhulilah ASI ku cukup lancar, sekali perah bisa dapet 1 botol penuh. Dengan bis jam 07.00 aku berangkat menuju Jogja. Jam 10.00 turun di Jombor (terminal bus di Jogja) terus langsung kekampus, cari data, bimbingan, dan balik ke Semarang naik bis jam 17.00. Sampai dirumah tangisan Nadia sudah menanti. Rupanya dia sudah nggak sabar pengen menyusu langsung dari pabriknya padahal badan sudah remuk redam setelah seharian muter-muter perpustakaan, tapi demi Nadia ya wes lahh….lupakan sejenak yang namanya kepentingan pribadi.

6 bulan masa ASI eksklusif berlalu dengan baik, tapi bukan berarti perjuangan berhenti. Nadia ternyata sama sekali nggak mau minum susu formula, apapun merknya selalu ditolak mentah-mentah. Akhirnya proses perah memerah susu tetap berjalan seiring dengan proses penyelesaian thesis. Menyelesaikan thesis ternyata nggak semudah skripsi lho, at least for me. Aku memilih topic yang cukup sulit dan belum banyak resensi mengenai topic tersebut. Alhamdhulilah dosen pembimbingku sangat helpful bahkan selalu siap membuka pintu perpustakaan pribadinya untukku dan membantu sebisanya. Yang bikin masalah adalah beliau dosen terbang di UGM yang hanya datang mengajar dihari Jumat. Selain dosen UGM beliau juga adalah sekjend TII (Transparency Internasional Indonesia) dan sekjend UNDP (United Nation Development Porgram) untuk Indonesia, kebayang kan betapa sibuknya beliau. Saat kuminta janji bertemu, beliau sedang ada di Den Haag, besoknya di Washington, minggu depannya di Quebec… huuuaaaa….pengen nangis rasanya. Dosen kedua pun nggak kalah sibuknya lho, beliau ini adalah sekertaris rector UGM. Alamaakk gimana mau cepet lulus kalo topic thesisnya susah, dosennya sibuk kabehh…. Maakkk…… !!!!

Sedih rasanya kalau melihat temen-temen seangkatan bisa menyelesaikan thesis dengan cepat. Pernah suatu ketika saat aku sibuk mencari data diperpustakaan, tiga orang teman seangkatan datang dan mengabarkan bahwa minggu depan mereka akan sidang thesis, sedangkan dua sahabat juga akan segera menyusul. Sedih rasa hati teman-teman satu persatu meninggalkanku berjuang sendirian. Saking sedihnya begitu turun dari bis aku muntah-muntah sampai seluruh isi perut keluar. Stres luar biasa memikirkan thesisku yang nggak kunjung selsesai. Kalau udah gitu ingin rasanya teriak dan nangis sekenceng-kencengnya. Walhasil Nadia sering kali jadi korban… maaf ya kak.

Waktu itu suamiku Cuma bilang, “mereka nggak punya tanggung jawab seperti adek (panggilan sayangku hehe). Ade sudah jadi ibu sedangkan sebagian besar dari mereka masih single, kalaupun ada anak, sudah besar. Ade punya dua beban, ngurus Nadia dan selesaikan thesis. Sekarang bikin jadwal aja, paling nggak sehari sisihkan 2 jam untuk focus ke thesis, insyaallah sedikit demi sedikit thesisnya selesai.” Berkat nasihat dari suami tercinta aku mulai bangkit lagi. Saat itu aku berazzam nggak mau mikirin orang lain lagi dan focus dengan kedua tanggung jawab ini.

bareng temen2 S2 selepas mengadakan seminar internasional di UGM

bareng temen2 S2 selepas mengadakan seminar internasional di UGM

Maka dimulailah pertarungan yang sesungguhnya. Aku mulai bikin jadwal untuk membagi waktu antara Nadia dan thesis. Aku ingat betul saat itu adalah bulan Ramadhan. Bersama doa yang nggak pernah putus terucap, aku mulai membuat jadwal. Selepas sahur dan shalat subuh aku menyelesaikan thesis sampai Nadia bangun, setelah itu semua waktu tercurah untuk Nadia. Begitu Nadia tidur siang aku lanjut lagi ke thesis sampai sore hari Nadia bangun tidur, begitu dan begitu setiap harinya. Selain konsultasi via email, seminggu sekali aku menemui dosen pembimbing, bahkan kalau harus mengejar beliau sampai kerumahnya didaerah Bantul pun akan kulakukan, yang penting thesis selesai.

Satu tahun perjuangan akhirnya berakhir saat Desember 2008 aku akhirnya berhasil masuk ruang sidang. Karena siding dimulai jam 07.00 pagi terpaksa mama dan Nadia kuboyong ke Jogja. Kami menginap dihotel yang nggak jauh dari UGM. Cuma ada seeorang sahabat yang menemaniku hari itu, karena sebagian besar teman sudah lulus dan kembali kekampung halaman. Syukurlah 2,5 jam sidang berlalu dengan baik, dan empat orang penguji sepakat memberi thesisku nilai A.

Subhanallah…lega luar biasa rasanya. Sujud syukur kulakukan begitu sampai dihotel, kupeluk mama dan Nadia. Akhirnya selesai juga perjuanganku. Berhubung sidangku diakhir Desember jadi nggak bisa mengejar wisuda dibulan Januari dan terpaksa menunggu sampai bulan April. Walaupun target cumlaude nggak tercapai (Cuma dapet IPK 3,75) tetep aja nggak mengurangi kebahagiaanku. Bersama 4 orang teman seangkatan dihari Jumat yang cerah dibulan April itu aku resmi menyandang gelar M.A. Bangga dan amat sangat bersyukur, perjuangan berat itu berhasil terlampaui. Nadia berhasil lulus ASI eksklusif bahkan tetap bertahan ASI sampai 2 tahun, dan akupun berhasil menyelesaikan studi.

Terima kasih Allah karena selalu menyertai setiap langkahku, memberiku dua orang dosen yang luar biasa helpfulnya, juga keluarga dan sahabat yang selalu mendukung. Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha dan berdoa sekuat tenaga. La Tahzan, inallaha ma’ana. “Janganlah takut, sesunguhnya Aku (Allah) selalu besertamu. Yakinlah Janji Allah selalu benar .

a moment to remember

a moment to remember

GA banner sweetmoment

 

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu”

 

Advertisements

18 thoughts on “Wisuda Keduaku

  1. luar biasa perjuanganmu mb Muna, aku nyelesaiin S1 aja udah ogah2an 😉
    panjenengan malah bisa membagi waktu antara thesis dg Nadia, top markotop lah. Selamat ya utk buah perjuanganmu itu mba, semoga ilmunya bisa berguna utk sesama *two tumbs up

    Like

  2. Sebuah perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, diniatkan untuk ibadah dan diiringi doa yang tak putus-putus Insya Allah berhasil.
    Jeng sudah membuktikannya.
    Selamat ya jeng
    Sukses GAnya
    Salam hangat dari Surabaya

    Like

  3. Salut dan angkat topi buat mbak Muna, mengerjakan thesis diantara kesibukannya sebagai ibu muda dengan kondisi Nadia yang perlu menaikkan berat badannya.
    tapi dengan IPK 3,75 sudah pencapaian buruk, mengingat dengan keterbatasannya.

    T.O.P.B.G.T deh..smoga sukses

    Like

    • Alhamdhulilah mas.. perjuangan banget tu tapi masih jauh TOP BGT mas Insan lah , harus banyak belajar dari kesuksesan mu disegala bidang nih…biar makin sukses dunia akhirat, amiin 🙂

      Like

  4. Munaaaaaaa……keinget jaman kita kuliah barreng, kamu gak kuat naik ke Amcor krn lagi mengandung Nadia….hahahhahahaha…..gelas dari mu pun masih rapi tersimpan di kotak…..suksesssss

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s