Weh Island….. I’m in Love

Senyuman lebar terkembang diwajah seketika kapal ferry yang akan membawaku menyebrang ke Pulau Weh nampak didepan mata. Rasanya ingin berteriak sekuat tenaga saking bahagianya… this is really a dream come true. Sudah sejak lama aku ngidam ingin mengunjungi Pulau yang lebih dikenal dengan nama Sabang ini. Sejak kecil kita terbiasa mendengar lagu “Dari Sabang sampai Merauke,” dan sejak itulah aku selalu berharap bisa mengelilingi Indonesiaku yang indah ini. Nggak terkira kebahagian yang kurasa saat itu karena akhirnya aku mendaratkan kaki di Pulau Weh, salah satu pulau terluar dibagian barat Indonesia ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 saat tiba dipelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan kapal ferry menuju pelabuhan Balohan yang ada di Pulau Weh. Antrian diloket tiket sudah sangat panjang meskipun hari masih pagi, syukurlah kami sudah memesan tiket beberapa hari sebelumnya.  Pelabuhan Ulee Lheu pagi itu penuh penuh sesak dengan para traveler dalam dan luar negeri. Aku mengenali mereka dari backpack besar yang nangkring dipunggung mereka. Untunglah ada abang (suami) yang selalu siap menggendong backpack kami, aku si cukup menikmati pemandangan yang luar biasa indah sepanjang perjalanan kami menuju Pulau Weh. 45 menit perjalanan terasa begitu lama, kaki ini rasanya gatal, tak tahan lagi ingin memulai petualangan di Pulau Weh. Nadia pun nggak kalah antusias berhubung ini adalah kali pertamanya naik kapal. Nggak ada sedikitpun ketakutan nampak diwajahnya, sepertinya Nadia tak kalah antusiasnya denganku pagi itu.

pantai Gapang

pantai Gapang

Finally …… mendaratlah kami dipelabuhan Balohan, alhamdhulilah. Sebuah mobil L300 berwarna biru dongker sudah menunggu kami diluar pelabuhan. Mobil semacam ini memang salah satu transportasi yang biasa digunakan travelers yang datang kesini. Penduduk local memang menyewakan mobil mereka pada pengunjung dengan tariff berkisar Rp.300.000 – Rp.1.000.000 (tergantung berapa banyak objek wisata yang akan dikunjungi) kepada para travelers. Berhubung mobil yang kami sewa adalah milik salah seorang teman kakak, maka kami berhasil medapatkan harga Rp.500.000 untuk dua hari, not a bad deal at all. Eits…sebelum keluar dari pelabuhan sebaiknya langsung saja memesan tiket kapal ferry untuk perjalanan pulang, lumayan kan bisa menghindari antrean panjang.

IMG_0582

Mobil L300 kami meluncur cepat menuju kedai kopi terdekat karena perut ini sudah meronta meminta haknya.kami berangkat selepas shalat subuh sehingga tak sempat sarapan, so daripada nggak bisa menikmati perjalanan sebaiknya isi perut dulu lah. Pemandangan disepanjang jalan kota Sabang sangat indah, kota yang tenang dengan hamparan pantai mengelilinginya. Banyak juga kedai kopi yang selalu dipenuhi pengunjung bertebaran diseluruh penjuru kota Sabang.  Kopi dan kedai kopi memang lekat sekali dengan budaya masyarakat Aceh. Aroma kopi Aceh yang semerbak segera menyapa kami begitu kami memasuki sebuah kedai kopi disudut kota Sabang. Segera saja kami duduk sembari menikmati  secangkir kopi ditemani sepiring roti canai, hmmm yummoo….  Visiting kedai kopi when you’re visiting Aceh is a must since you can taste both the food and the culture.

Setelah perut tenang barulah perjalanan dilanjutkan, kami langsung menuju pantai Gapang. Namanya juga Pulau, tempat ini tentu saja penuh dengan pantai yang indah. Rasanya ingin mengunjungi semua kalau nggak inget waktu kami yang sangat terbatas disini. Mata ini langsung terbius begitu sampai dipantai Gapang. Masyaallah…. Siapa yang nggak terpikat dengan keindahan ini?? Airnya begitu biru dan bening bergerak silih berganti diterpa ombak yang lembut. Pasir putihnya yang halus dan lembut… rasanya ingin berguling-guling diatasnya. Pantai ini sangat khas karena dikelilingi oleh banyak pohon Gapang yang besar dan tinggi, jadi kita nggak akan tersengat sinar matahari secara langsung. Tak banyak pengunjung saat kami tiba dipantai Gapang, mungkin karena bukan hari libur. Kami bebas berenang, snorkeling, bahkan berlarian kesana kemari, rasanya seperti punya pantai pribadi. 2 jam lebih kami menikmati pantai Gapang, sebelum akhirnya kami check in dipenginapan yang sudah kami pesan jauh hari sebelum kedatangan.

IMG_0586

Setelah beristirahat sejenak dan meletakkan semua barang bawaan, kami kembali meneruskan perjalanan. Waktu yang sangat terbatas ini akan kami manfaatkan dengan semaksimal mungkin, entah kapan lagi kami akan kembali ke Pulau Weh. Sebelum menuju destinasi selanjutnya, kami makan siang dengan menu mi Aceh yang juga menu favorit kami. Matahari masih bersinar dengan terang meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 04.00. Memang tak ada perbedaan waktu antara pulau Weh dengan Pulau Jawa tapi karena letaknya diujung Indonesia, matahari pun bertengger lebih lama disini. Saat kami tiba di pantai Iboih, pantai ini sudah dipadati travelers yang asyik bersnorkeling dan berdiving ria. Ada beberapa tempat yang menyewkan peralatan diving dan snorkeling, dan hampir semuanya terpakai. Pantai ini memang kondang dikalangan travelers karena memang pantai ini adalah salah satu spot diving terbaik didunia. Sebenernya tanpa snorkeling pun kita masih bisa menikmati terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari karena memang airnya yang sangat jernih, tapi kok kurang afdol rasanya kalo nggak snorkeling dipantai seindah ini. Nggak salah kalau pantai ini dinobatkan sebagai spot diving dunia hanya sayangnya pantai belum digarap dengan maksimal. Sebagai objek wisata kelas dunia fasilitas penunjang disini sangat minim. Hanya ada beberapa kamar mandi disini dan hampir semuanya kotor. Untuk membersihkan diri setelah berenang saja, kami harus mengantri satu jam lebih. Tak seperti di Bali yang semua objek wisatanya terawat dan full facility, Iboih terbangkalai tanpa sentuhan.

Aahhh…waktu rasanya berlalu terlalu cepat saat kita berada ditempat seindah ini. Adzan magrib sudah berkumandang saat kami meninggalkan Iboih. Belum puas sii… tapi gimana lagi. Traveling membawa anak-anak tetap nggak bisa sebebas saat kita sendiri, tubuh mereka belum sekuat kita yang mampu melawan angin laut dimalam hari. Belum ingin mengakhiri kesenangan, kami memutuskan menghabiskan malam dengan berkeliling kota Sabang. Kami membeli beberapa souvenir khas Sabang, mencoba local food dan berfoto-foto ria. Sesampainya dipenginapan, Nadia sudah tepar dengan suksesnya, siap memasuki alam mimpinya.

Keesokan harinya sebelum berpisah dengan Pulau Weh kami mampir ke Tugu Km.0. sebetulnya masih banyak sekali pantai indah di Pulau Weh. Andai kami waktu lebih lama ingin rasanya menyusuri setiap sudut pulau ini, sayang sekali besok kami sudah harus kembali ke Pulau Jawa. Tugu km.0 memang salah satu objek yang paling menarik untuk dikunjungi karena tugu ini adalah penanda dimulainya titik awal Indonesia dibagian barat. Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih, tepatnya di sebelah barat kota Sabang sekitar 29 kilometer.

Tugu km.0 terletak diatas sebuah  bukit. Untuk menuju ke Tugu Km.0 kita akan menemukan jalan yang menanjak dan berkelok. Beberapa kilometer sebelum sampai di Tugu Km.0 puluhan monyet-monyet jinak dan lucu menyapa dengan jeritan-jeritan khasnya. Beberapa mobil tampak berhenti sejenak untuk menyapa penghuni hutan ini  dan melempari mereka dengan kacang maupun buah-buahan. Seperti biasa Nadia yang selalu tertarik pada dunia binatang sudah mulai heboh ingin menyentuh mereka, sayang sekali kami tak membawa banyak perbekalan.

Tak lama setelah berpisah dengan monyet-monyet, sampai lah kami dititik km. 0 Indonesia yang ditandai oleh sebuah tugu berwarna krem dan pink yang berbentuk lingkaran berdiameter 50 centimeter ini. Tugu ini terdiri dari dua bagian. Diatas tugu ada patung Garuda yang mencengkram angka 0 dikakinya, ada juga prasasti yang ditandatangani B.J Habibie yang saat itu masih menjadi Menristek. Di lantai kedua terdapat sebuah beton bersegi empat dimana  tertempel dua prasasti yaitu prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ Habibie, pada 24 September 1997. Dalam prasasti itu bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia tersebut diukur pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Sedangkan dibagian bawah tugu ada prasasti peresmian Tugu km.0 yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno, pada 9 September 1997.

Lokasi tugu yang cukup terpencil membuatnya menjadi satu-satunya bagunan dilokasi ini. Satu hal yang special dari tugu km.0 adalah lokasinya yang berada diatas bukit, dikelilingi oleh hutan yang rimbun, dan dibingkai oleh Samudra Indonesia.dari atas Tugu birunya samudra terlihat berkilauan diterpa sinar matahari…..ahhh…. sungguh indah negeriku. Berat rasa kaki ini meninggalkan keindahan Pulau Weh namun kapal ferry yang akan membawa kami kembali ke Banda Aceh sudah menanti dipelabuhan Balohan. Sayonara Pulau Weh… semoga suatu hari nanti aku dapat kembali menginjakkan kakiku dipulau yang indah ini.

Advertisements

15 thoughts on “Weh Island….. I’m in Love

  1. iya memang indah banget…udah pernah kesana tahun 2009, mungkin sudah banyak perubahan disana ya mak?Sempet kefikiran, andai Pulau Weh bisa dikelola dengan lebih baik lagi, mungkin bisa jadi Bali ke dua di Indonesia…Salam kenal 🙂

    Like

  2. wiii asyiik 🙂 …bener mak, traveling bawa anak mmng kita ga bisa berlama2 di suatu tempat. Kadang ga bisa semua dijelajah, yg penting spot2 utama udh dikunjungin. Meski terbatas, pergi bawa anak ada kebahagiaan sendiri krn bs terus bersama2 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s