When Blessings Are Revealed: Jawara Kontes My First Giveaway

Jester dan jari sang Raja
Tahukah sahabat tentang jester? Jester adalah pelawak profesional yang dipekerjakan di istana untuk menghibur raja. Saya pernah membaca kisah tentang seorang jester yang diperintahkan Raja untuk memotong kukunya. Namun sungguh malang, tanpa sengaja, alih-alih merapikan kuku, si jester malah memotong satu jari sang Raja. Raja pun marah besar. Kemurkaannya membuat si jester terusir dari istana. Namun pengusiran tersebut tak dapat mengembalikan jari yang buntung. Ya, Raja kini cacat fisik.

Suatu ketika Raja beserta rombongan tengah berburu di sebuah rimba. Tak dinyana tak diduga, sekonyong-konyong mereka dikepung oleh sekelompok suku primitif kanibal. Pasukan yang ada tak berkutik. Raja pun bergeming. Semua prajurit ditawan dan dibawa pergi oleh suku kanibal tersebut. Raja hanya bisa membayangkan kematiannya yang semakin dekat.

Di luar dugaannya, Raja ternyata tak ditawan. “Tinggalkan orang ini. Dia cacat, dan tentu tak lezat dimakan. Lihat jarinya yang buntung!” Begitu ujar seorang anggota suku kepada kawan-kawannya. Raja tentu saja bernapas lega. Dan demikianlah ia akhirnya berhasil kembali ke istana dengan selamat. Tak lupa, ia segera mengundang jester yang pernah ia usir agar menjadi orang kepercayaannya.

Semua dapat hadiah
Menurut saya, kisah klasik ini jelas menampilkan contoh anugerah dalam bencana atau yang sohibul blog sebut dengan Blessing in Disguise. Sebuah contoh yang gamblang dan tak perlu diuraikan panjang lebar lagi.

Setelah kontes giveaway (GA) pertama di blog ini digelar selama sebulan penuh, tibalah masa penjurian. Dan merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk melakukan penilaian. Harus saya akui menjadi juri tamu bukanlah perkara mudah. Selalu ada rasa gamang dan bahkan perasaan bersalah tatkala menyisihkan peserta lain demi menggoreskan sebuah nama peserta di jajaran tulisan terbaik.

Saya teringat kali pertama mengadakan GA di blog belalang cerewet. Ada sekian belas peserta yang berduyun-duyun menyetorkan tulisan unik dan mengesankan. Saya mengambil langkah ekstrem: Kesembilan belas peserta berhak mendapat hadiah (buku) sedangkan dua peserta teratas saya tambah dengan mainan anak. Ini bentuk apresiasi atas kesudian mereka meluangkan waktu dan pikiran untuk menulis pengalaman liburan mereka demi meramaikan hajatan perdana saya.

Namun saya tentu saja tak bisa melakukan hal yang sama. Bila 40-an peserta yang mendaftar dalam kontes Blessing in Disguise ini saya menangkan, tentunya sohibul hajat akan kelimpungan mengirim hadiah plus ongkos kirim yang tak kecil jumlahnya, hehe. Dan yang lebih parah: saya tak akan diizinkan lagi menumpang taksi merah nang eiylekhan ituh, haha!

Tanpa berkunjung
Agar proses penjurian bisa berlangsung dengan objektif, saya sengaja tidak mengunjungi blog peserta. Sebagai alternatif, saya meminta penyelenggara untuk mengirimkan tulisan semua peserta dalam satu file Microsoft Word, tanpa gambar, tanpa nama penulis. Besar harapan saya agar ketiadaan informasi mengenai penulis tersebut akan mendorong saya bersikap jujur dalam membaca setiap teks.

Setelah melalui serangkain medit(er)asi dan debat alot dengan istri (yang menjadi teman curhat saat menjuri), terpilihlah delapan tulisan sebagai jawara, yang sebelumnya hanya tujuh kandidat. Memilih delapan pemenang sangat meneror kalbu dan menggerogoti kesadaran, duh lebay dah ah! Betapa tidak, puluhan tulisan lain sebenarnya memiliki kekuatan dan karakter tersendiri. Hanya saja, akhirnya juri harus mengambil keputusan.

Diselingi tangisan Bumi dan keisengan Rumi yang begitu aduhai, delapan kontestan ini pun saya godok dalam Kawah Candradimuka. Di tengah cuaca Bogor yang selalu berkabut dan dompet yang berkedut-kedut, juri pun mengambil keputusan ekstrem bahwa kedelapan peserta ini tidak jadi menang.

Hehe, bercanda, Sob! Kita semua sepakat bahwa dalam hidup kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Tak sedikit kejadian yang tak sejalan dengan kehendak kita. seperti ketika memilih jurusan pendidikan demi masa depan. Kita kerap egois dan tak mempedulikan usulan orangtua. Padahal mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk kita.

Ini terbukti pada tulisan berjudul “Berubah Haluan” di mana penulis akhirnya bertekuk lutut pada takdir untuk mengabdi sebagai tenaga pendidik. Bayangan mewahnya bekerja di perusahaan akhirnya ia lipat dalam keceriaan anak-anak yang ia dampingi setiap hari. Dan betapa ia justru memperoleh kebahagiaan unik dari aktivitasnya yang sangat dinamis itu. Semoga Buku dan CD Keajaiban Cinta Rasul semakin membuatnya mengakrabi anak-anak didik dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Cinta adalah sumber energi kehidupan. Dan cinta paling primer adalah cinta kepada Tuhan. “Cahaya di Tanah Sunda” mengingatkan kita bahwa pengorbanan dan cinta kepada Tuhan akan selalu mengantarkan kita kepada kebahagiaan hakiki, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Mudah-mudahan seperangkat mukena khas Bali semakin membelai penulis dalam kemesraan bersama Allah.

Tuhan membentangkan jagad raya ini dengan berjuta pelajaran. Manusia harus pandai membaca ayat-ayat Tuhan yang tersirat di alam semesta. Tak terkecuali belajar dari ketegaran seorang bayi dengan penyakit jantung bawaan yang justru mampu menyatukan keluarga dan mengundang banyak tangan untuk menolong. Sebuah kaos dan suvenir cantik dari Aceh moga-moga kian memperindah keluarga penulis “Bayi Saya, Guru Saya” yang tengah diuji oleh Allah ini.

Menjadi ibu adalah tugas mulia. Ibu adalah sumber semangat dan energi bagi anak-anaknya. Namun bagaimana bila ekonomi keluarga menjadi tersendat lantaran penghasilan sang ibu harus terhenti dan tak bisa lagi menopang pemasukan suaminya? “Menjadi Peselancar yang Baik” secara apik mengajarkan kita untuk melihat peluang di balik musibah. Warung makan yang terpaksa ia tutup ternyata membuka kran cinta bagi anak-anaknya. Semoga pulsa 25.000 cukup untuk memantau anak-anaknya melalui pesan singkat (sms).

Bila seorang istri harus berperan sebagai ibu, maka suami pun tak kalah perjuangannya. Ketika harus berpisah dari istri dan anak-anak tercinta, suami dan ayah dituntut berkorban demi mencari rupiah nun jauh di ibukota. Tugas yang awalnya ia pandang tak enak itu ternyata justru mengantarkannya “Mengambil Bintang ke Jakarta” dan menjadi seorang jenderal. Bayangkan bila ia menolak tugas pindah itu, mungkin ia tetap nyaman dalam stagnasi. Meski tak banyak, semoga pulsa 25.000 membuatnya tersenyum untuk meng-update status atau postingan blog.

Ibu memang sosok luar biasa. Bahkan ketika mengandung pun ia masih sanggup bekerja, dengan kepayahan dan semangat menyala-nyala. Namun ketika pekerjaan melayang sementara dapur harus tetap berkepul, tentu kesedihan yang tersisa. Penderitaan tak akan abadi, sebab cahaya kebahagiaan akan segera bersinar. Begitulah pesan yang tersirat dalam “Akan Ada Badai Setelah Pelangi”. Semoga buku Ubah Orang Buangan Jadi Rebutan dapat menemani hari-harinya bersama si kecil.

Kebahagiaan adalah target hidup setiap orang. Dan manusia yang bijak adalah orang yang tergerak untuk membagi kebahagiaan dengan orang lain, dengan cara yang dia bisa, dengan apa yang ia miliki. “Perawat Ga Kepake” adalah contoh konkret bahwa kebaikan bisa kita mulai dalam hal-hal yang sederhana, mulai dari sekarang, dari apa yang kita mampu. Tak perlu menunggu jadi presiden atau kepala daerah untuk menebar berkah Allah untuk sesama. Mudah-mudah buku Guru Luar Biasa kian membuat penulis mencintai anak-anak yang ia bantu.

Takdir Allah selalu super. Superindah dan superberkah. Hanya saja pandangan kita yang sempit dan kebodohan kita yang kerap membuat kita terhalang dari keindahan rencana-Nya yang sempurna. Berjauhan dari suami bukanlah hal ideal, maka penulis memutuskan berhenti kerja dan merelakan godaan beasiswa S2 dari perusahaan. Sebagaimana bunyi judulnya “Indahnya Takdir Allah”, semua memang berakhir indah. Akta IV yang penulis ambil akhirnya sangat bermanfaat menunjang profesinya. Tak ada yang sia-sia. Semua punya makna dan arti. Seperti makna yang terselip dalam himpunan Puisi Enam Tiga.

Demikianlah, lega rasanya akhirnya tugas saya terlaksana. Karena saya menjuri sendiri dan kendatipun telah berusaha bersikap objektif, namun sangat mungkin masih ditemukan elemen-elemen personal yang tidak bisa dilepaskan. Yang paling penting adalah bahwa kita harus membuka mata hati ketika mendapat musibah, diselingi dengan rasa syukur agar ditambah kenikmatan. Itu! (gaya Mario Teguh :))

Selamat untuk para pemenang 🙂

rilis ga muna

Notes from sohibul blog:

Alhamdhulilah akhirnya GA perdanaku selesai juga. Sama sekali nggak nyangka antusiasme peserta begitu besar, sampe terharu (ambil tissue). Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua peserta yang ceritanya sangat menginspirasi. Untunglah bukan aku sendiri yg menjadi juri, pasti bingung memilih pemenang karena tulisannya bagus semua. Spesial thanks terkirim untuk kakandaku yang baik hati Belalang Cerewet, yang sudah rela menghabiskan waktu dan tenaganya membantu menjuri GA ini dan selalu siap mendengarkan celotehanku yang nggak kalah cerewetnya, semoga Allah membalas dengan beribu kebaikan untukmu dan keluarga. Insyaallah Nadia akan kirim hadiah spesial untuk adek Rumi dan Bumi tersayang. Last but not least.. selamat untuk semua pemenang. Hadiahnya mungkin tak seberapa tapi ini tanda kasihku untuk kalian semua.. maacciiihh ya (peluk satu-satu)….

Untuk para pemenang, silakan kirimkan data diri anda berupa nama, alamat, email, dan no. telepon di kolom komentar pada postingan ini ya… 🙂

Advertisements

32 thoughts on “When Blessings Are Revealed: Jawara Kontes My First Giveaway

  1. yeah..setiap kontes membuat diri saya yang pemalu menjadi sedikit bebal (dlm arti positif) .. terimakasih banyak atas ga-nya, until next time.. im bulletproof nothing to lose..fire away..fire away..

    Like

  2. Keren banget nih,, ^_^
    Asyik bacanya padahal intinya pengumuman kontes..

    Selamat buat kedelapan Jawara..
    Saya tunggu partisipasinya di GA perdana Chaidir’s Web yaa..
    hehehe..

    Like

  3. Menang ya?Alhamdulillah…alhamdulillah. Makasih mas juri dan mbak panitia 🙂
    Alamat dan data diri aku kirim di inbox fb aja ya mbak Muna.

    Oya kisah Jester dan jari sang rajanya menarik sangat, Blessing in disguise.

    Like

  4. Selamat buat pemenang 🙂
    Usaha yang keras, dari jurinya saya suka, membaca dalam bentuk file saja dan tidak menyertakan nama. Salut buat mas Belalang Cerewet.

    Selamat buat mbak Muna … sukses ya mbak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s