Ketika Dua Hati Bertemu

Pertemuan antara dua sejoli pasti selalu penuh dengan kenangan indah yang tak terlupakan, begitupun dengan kisahku dan suami tercinta. Aku selalu kagum dengan naskah Allah yang mempertemukan dua manusia dengan berbagai cara yang unik. Ada yang bertemu dengan mudah, ada pula yang harus menjalani beberapa ujian sebelum akhirnya bersatu. Sungguh Allah adalah sutradar terbaik karena Dia memberikan apa yang manusia butuhkan, bukan inginkan. Jodoh, sejauh apapun dia, pasti takdir Allah akan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan yang indah dan kokoh. Itulah yang selalu kuyakini. Lika liku pertemuanku dengan suami hingga akhirnya menikah pun, menyimpan segudang cerita seru dan haru yang akan selalu terkenang sampai kapanpun.

Seperti kebayakan drama atau film percintaan, kisahku pun berawal dari kejadian tragis yang sempat membuat hati ini remuk redam (sedikit mendramatisir). Sebelum akhirnya bertemu si abang yang jadi suamiku sekarang, aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Hubungan kami berjalan sekitar empat tahuan, lumayan lama ya, apalagi buatku yang bosenan. Saat itu aku masih kuliah di Semarang, sedangkan sang mantan bekerja di Jogjakarta. Meskipun berbeda usia 6 tahun dan terpisah jarak waktu hubungan kami berjalan cukup baik. Kami biasa bertemu saat weekend, memang cukup berat sih menjalani long distance relationship, apalagi saat itu banyak sekali pria-pria yang menaksirku diriku yang imut ini (mbak uniek langsung lempar sandal), tapi syukurlah aku bisa bertahan. Orang tuaku pun juga sudah merestui, apalagi si mantan ini juga keturunan Arab dan masih ada hubungan saudara dengan mama. Mengingat umurnya yang sudah matang, dia pernah meminta untuk segera melamarku, tapi aku ogah. Usiaku masih muda belia, kuliah juga belum rampung, saat itu pernikahan jelas belum masuk dalam daftar impianku. Aku cuma bisa berjanji membicarakannya lagi setelah aku wisuda, namun rupanya Allah berkehendak lain.

Menginjak 4 tahun hubungan kami, pertengkaran dan perselisihan mulai sering terjadi. Jarak, komunikasi yang nggak lancar, dan perbedaan usia jadi penyebab utama. Aku masih berusaha mempertahankan hubungan kami sampai pada suatu hari sebuah telpon yang mengguncang duniaku datang. Sang mantan memutuskan hubungan kami berakhir entah karena apa. Aku kira semua usaha dan jerih payah kami mempertahankan hubungan berhasil, tapi tidak menurutnya. Seribu satu alasan yang nggak jelas diutarakannya, dia tetap pada pendirian ingin putus. Hebat banget ya, empat tahun hubungan berakhir hanya lewat telpon dan tanpa alasan. Saat itu aku stress bukan main, berat badan turun, airmata nggak berhenti menetes, yang lebih parah lagi kedua orang tuaku pun merasa sedih, mungkin karena sudah berharap banyak dari si mantan. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu ungkapan yang pas buatku saar itu. Saat dengan susah payah kembali menata hidup dan bersiap menghadapi siding skripsi, sebuah undangan pernikahan datang dari Jogja. Hanya berselang beberapa bulan sejak kami putus, undangan pernikahan mereka kuterima dengan tangan gemetar dan mata sembab dua hari sebelum siding skripsiku.

Begitu berat hari-hari itu kurasa, syukurlah ada beberapa sahabat yang selalu siap menjadi tempat bersandar. Dengan susah payah ujian demi ujian mampu kuatasi. Nah disaat inilah rupanya scenario Allah dalam rangka mempertemukan jodohku dimulai. Seorang sahabat mengenalkanku pada abang yang ternyata adalah sahabat kakaknya. Sebenarnya perkenalan itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, aku lupa tepatnya yang jelas saat itu aku masih pacaran sama si mantan. Tak ada perasaan apapun pada abang, bagiku dia adalah teman yang enak untuk diajak ngobrol. Kami biasa bertemu di kos-kosan sahabatku, ngobrol rame-rame dengan beberapa penghuni kos lainnya. Sahabatku Dewi memang pernah bilang kalau abang punya rasa padaku, tapi aku belum ingin memulai hubungan lagi karena masih trauma. Hubunganku dengan abang berjalan baik layaknya teman. Abang sering bercerita tentang hobbynya naik gunung bersama teman-temannya aku mendengarnya dengan antusiasn karena memang aku hobby traveling dan sangat ingin naik gunung.

Mungkin takdir Allah yang menggerakkan hati ini sehingga kesabaran dan kebaikan abang akhirnya meluluhkan hatiku juga. Meskipun buka tipeku (maaf ya bang) tapi karena beberapa kesamaan rasanya kami cepat sekali β€œklik” dan kemudian sepakat untuk menjalin hubungan. Aku jadi teringat pada doa yang pernah kuucapkan saat aku masih SMA. Saat itu aku pernah berdoa pada Allah, meminta suami yang bukan orang Jawa. Semakin jauh semakin baik, itu yang kuminta. Alesannya sih simple, karena aku pengen jalan-jalan dan merasakan serunya mudik keluar Jawa. πŸ˜‰ Rupanya Allah menjawab doaku dengan mengirim abang yang berasal dari ujung barat Indonesia. Sekali lagi Allah membuktikan kebesarannya, kekuatan doa memang tiada duanya.

Sebulan setelah kami jadian, Aceh diterjang tsunami. Aku menyaksikan sendiri airmata deras mengalir di asrama Aceh yang ada di Semarang. Kecemasan dan ketakutan menjadi hidangan utama diminggu pagi itu. Abang sibuk menelpon kesana kemari, kebetulan saat itu abang menjadi ketua perkumpulan mahasiswa Aceh di Semarang meskipun abang sudah lulus kuliah. Alhamdhulilah Allah masih melindungi keluarga inti abang meskipun beberapa sepupunya tergulung ombak dan tak ditemukan jasadnya hingga detik ini. Aku hanya bisa mendukung dan menghiburnya kala itu, tak ingin membebaninya lagi dengan satu masalah, orang tuaku yang tak merestui hubungan kami. 😦

Bukan karena pribadi atau sifat abang, melainkan tradisi dikeluarga Arab untuk terus mempertahankan garis dan darah Arab mengalir dari satu generasi kegenerasi lain. Keturunan Arab harus menikah dengan sesamanya. Jujur saja aku sudah mati rasa dengan pria Arab berkat kegagahan si mantan memutuskanku via telpon. Aku meolak mentah-mentah tradisi itu sambil terus mengutarakan sekeranjang alasan yang tak digubris kedua orang tuaku. Disaat galau tingkat tinggi, aku membaca sebuah ayat Al Quran (QS. Al Hujurat: 13) yang berbunyi:

β€œHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulai diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Kemudian kuteruskan dengan membuka surat lainnya (QS. An Nur: 26), bunyinya:

β€œWanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan lalki-laki yang baik untuk wanita yang baik.”

Kubuka dan kubaca kedua ayat tersebut dihadapan mereka. β€œAdakah ayat di Al Quran yang menyebutkan keturunan Arab harus menikah dengan keturunan Arab? Apabila ada tolong bacakan dan aku akan menuruti keinginan mama dan papa,” itulah yang kukatakan pada mereka. Keduanya tak bisa membantah, taka da satupun perintah Allah yang memerintah tradisi tersebut. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dengan beragam bentuk dan sifat agar bisa saling mengenal, mempererat tali silaturahmi. Hanya ketakwaan yang membedakan manusia disisi Allah, bukan asal usul maupun hartanya. Alhamdhulilah kedua orang tuaku yang memang memegang teguh ajaran Islam akhirnya menyetujui hubungan kami. Hingga detik inipun ketika keluarga besarku berkumpul penuh dengan wajah-wajah Arab, mama dan papa tetap bangga dengan mantunya yang orang Aceh. Yah nggak dapet Arab nggak apa lah, masih kebagian serambinya Mekkah (Aceh kan serambi Mekkah) πŸ˜‰

Bersama dengan keridhoan kedua orang tua mengalir segala kemudahan dari Allah. Diawal tahun 2005, sebulan setelah abang mendapatkan pekerjaan di Surabaya, abang meminta bertemu dengan papa. Pertemuan pun berjalan lancar, abang mengutarakan keseriusannya, bercerita mengenai pekerjaan barunya (padahal waktu itu gajinya masih mepet banget), dan papa pun menyambut baik. Abang pun memperkenalkan kedua orang tuanya via telpon padaku. Baru sekali berbicara dengan mereka rasanya seperti sudah sangat mengenal keluarga abang. Ayah, mamak, dan semua kakak abang (ada 7) merestui kami. Tahun 2006, sebelum aku meneruskan studiku di Pasca Sarjana UGM, keluarga besar abang dari Aceh datang dan melamarku. Mengingat usia ayah sudah 83 tahun sedangkan mamak 70 tahun, keduanya meminta kami segera dinikahkan saja.

Seperti air sungai yang mengalir dengan tenang semua pun berjalan dengan lancar. Aku tak sempat lagi mengurusi persiapan pernikahan karena padatnya jam kuliah sehingga semua diambil alih mama. Sungguh sebuah kemudahan disaat yang bersamaan disebuah mall di Semarang sedang berlangsung Wedding Expo, sehingga aku dan abang sepakat bertemu di Semarang untuk melihat beberapa trend pernikahan saat itu. Katering, undangan, dekorasi gedung, foto pernikahan hingga desain undangan kami temukan dalam Expo tersebut dengan harga diskon. Satu bonus lagi dari tanteku yang perias pengantin, baju dan riasan pengantin plus keluarga menjadi hadiah pernikahan kami. Memang benar sabda Rasulullah, kalau kita menikah dengan niat yang baik insyaallah Allah akan memberi kemudahan.

my wedding20 januari 2007 bertempat dirumahku akad nikah kami dilangsungkan. Hari itu adalah tanggal 1 Syura menurut kalender islam. Menurut kebiasaan Jawa, itu adalah hari yang buruk terutama untuk pernikahan tapi kami sengaja memilih hari itu untuk membuktikan tidak ada hari yang buruk. Justru 1 Syura adalah hari yang sangat baik terutama bagi umat Muslim. Abang mengucapkan ijab Kabul dengan lancar dalam bahasa Arab dan dinyatakan syah oleh penghulu dan saksi nikah. Sebelumnya abang memang sudah kukasih bocoran kalau mama dan papaku menghendaki kalimat ijab qabul diucapkan dalam bahasa Arab, jadi abang harus menghapalnya. πŸ˜‰

21 januari, keesokan harinya resepsi berjalan dengan baik, dan seminggu kemudian kami sudah harus berpisah karena harus kembali dengan rutinitas. Aku kuliah di Jogja dan abang bekerja di Surabaya. ;( Bayangkan betapa sedihnya pengantin baru harus terpisah jarak waktu, but life must go on. Setelah lima tahun menjalani long distance marriage akhirnya kini kami sudah berkumpul yaaayyy…. πŸ™‚ Semoga Allah menghimpun yang terserak dari kami berdua, meberkahi langkah kami dan kiranya Allah SWT menjadikan keluargaku menjadi keluarga sakinah mawwadah warahmah, menjadikan keturunan kami anak yang shalih dan shalihah yang kelak menjadi kunci surga bagi kedua orang tuanya, amiinn…. β€œRabbana hablana min azwajina wadzuriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lilmuttaqiina imama. ” (Ya Allah karuniakanlah pada kami dari istri-istri kami dan anak cucu kami yang menyenangkan diri kami dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. QS. Al Furqan: 74)

Β 

Untuk mbak Uniek Kaswarganti dan suami, happy anniversary. Semoga Allah senantiasa menghiasi keluarga kalian dengan cinta dan kasih sayang. Semoga Allah selalu menyertai langkah kalian berdua dalam membangun rumah tangga yang sakinah mawwadah wa rahmah, serta memberkahi pernikahan kalian dengan anak-anak yang shalih dan shaliha, amiiiinn….. πŸ™‚

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine

logo 10th wedding anniv 2

Β 

Β 

Advertisements

34 thoughts on “Ketika Dua Hati Bertemu

  1. arab harus dapet arab,,iya mba emang,,tp itu dulu,,ayo toss dulu yuuk ma aku yg keluar dr kebiasaan,,he he,,untung aku udah setor duluan ke mba uniek mba,,nek gak gt bisa jatuh minder lg aku πŸ™‚

    Like

    • iya bener mak, emang sekarang tradisi jahiliyah itu perlahan sudah mulai ditinggalkan. masih banyak si yg nyiyir kalo liat suamiku, tapi bodo amat..as long as I’m happy with my life…. orang lain bilang apa cuekin ajah πŸ™‚

      Like

  2. Cihuiii, semoga pernikahanmu diridhai dan diberi keberkahan selalu ya Nok. Moga-moga kehadiran Nadia semakin memperkuat cinta dan aliran rezeki…Salam dari Bogor!

    Asline aku dulu juga mau nembak, tapi pelurunya abis je 😦

    Like

    • huuuaaaa……. berarti kecurigaanku &gosip temen2 bener adanya dong, kirain aku sing geer. dirimu kesuwen sih mas, selak digondol bang Indra wes hehehe…
      makasih doanya, doain juga adeknya Nadia cepet datang yah πŸ™‚

      Like

  3. Indah sekali. Eh Mbak, ini si Abang ikutan baca juga apa nggak ya? Jadi bayangin kalau si Abang ikutan baca, bisa panas dingin dia saat membaca tiga paragraf pertama πŸ™‚

    Sukses buat GA-nya ya Mbak.

    Mohon maaf, kemarin nggak sempat ketemuan di Jember. Semoga lain waktu bisa ketemu ya Mbak. Salam dari istri saya…

    Like

    • hahahaha…. nggak tau juga deh mas, nanti kalo sampe panas dingin aku kasih antangin deh heheh…. Insyaallah lain waktu bisa ketemuan di Jember yah, masih pengen kesana lagi nih, apa lagi ada tebengan gratis … ehhhh πŸ˜‰

      Like

  4. Cantik bgt foto pernikahanyya itu dg kebaya putih… aku? Ora ndue poto kawinan πŸ˜€ di aceh bnyak ya keturunan arab? Semoga samara selalu pernikahanmu.. aamiin

    Like

    • Nggak apa2 kalo nggak punya foto nikah mak, nggak dosa kok yang penting mempertahankannya supaya jd keluarga samara, tak doain moga2 kali ini yang terakhir ya mak. Yuk ah kirimin cerita nikahan kmr, kan maish fresh from the oven tuh πŸ˜‰

      Like

  5. Terharu bacanya mbak πŸ™‚ nice story πŸ˜‰ dan kok ya mirip2 kisahku ya mbak?? (putus sm pacar lama yg uda rencana nikah, dpt suami yg skrg trus ldr bertahun2, dan skrg alhamdulillah sy jg ‘sdh hampir’ gak ldr lg πŸ˜€ tinggal nunggu hari, yeyyyy πŸ™‚ salam kenal mbak πŸ™‚

    Like

    • Setelah gagal mencoba berbagai cara ya tinggal inilah cara terakhir alisa senjata pamungkas yang ternyata tepat mengenai sasaran mbak, alhamdhulilah πŸ™‚
      makasih kunjunganya mbak πŸ™‚

      Like

  6. ihiiiirrr… ayune reeek sing kebaya putih πŸ˜‰

    terima kasih bunda Nadia utk partisipasinya, mohon link hidupnya dibetulkan dulu ya hihihiii… tadi waktu dicoba klik error melulu πŸ˜€ ada 2 hyperlink yg harus di-refer lho jeng, suwun

    Like

  7. ah sempet menahan nafas bacanya.. *untuk gak lama2 nahannya hihihi..
    semoga selalu langgeng, jadi keluarga sakinah mawadah, warohmah dan berlimpah berkah ya mak..aaminnn,,
    sukses ngontesnya πŸ™‚

    Like

  8. Aaa…cantiknya sang penganten πŸ™‚
    Eh jadi inget tetangga yg mamahnya keturunan Arab. Pingin anak2nya dapet jodoh sesama Arab. Ternyata dapet jodoh orang Bogor semua πŸ™‚
    Semoga berbahagia selalu yaa..aamiin.
    Sukses untuk GA-nya ^_^

    Like

    • hahahah….. iya kebanyakan orang keturunan Arab masih mikir begitu mak, lha jodoh kan hak prerogatif Allah ya, yg penting baik dan shaleh.. orang mana aja juga sip lah πŸ™‚
      makasih doanya mbak πŸ™‚

      Like

  9. Ketinggalanbanyak postinganmu nih Mbak, tak nyicil dikit-dikit ya

    Kalau memutuskan sepihak gtu emang biasanya sudah ada yang baru, jadi gak perlu tahu alasannya dan salah kita dimana
    Alhamdulillah dipertemukan dengan laki2 yang lebih baik
    Btw, aq juga pernah deket sama orang Arab dan yah gitu deh wkwk

    Like

  10. Hahhaha…mohon dimaafkan ya mbak keluarga mantan pacar mbak itu, emang kebanyakan masih saklek begitu sihh, gemes jadinya !!! padahal keturunan Arab pun belum tentu jaminan mutu kok tapi kalo aku si insyaallah baik dna shalihah…. ixixixixi πŸ˜‰

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s