Cari Makanan Halal di Indonesia Susah???

Membaca judul diatas pasti pada bingung semua. Indonesia kan negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia, pasti gampang lah cari makanan halal! Eits…. jangan salah, tapi memang begitulah adanya. Sedih rasanya mengetahui fakta ini, apalagi aku termasuk doyan wisata kuliner. Ternyata rendahnya pemahaman kita mengenai urusan halal/haram dan mahalnya biaya pengurusan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI menjadi sumber utama dari keadaan yang menyedihkan ini. Dipostingan ini aku juga mau minta maaf pada salah seorang teman yang dulu seringkali kukatain “ndeso” karena setiap diajak makan diluar selalu aja Tanya ini restoran halal apa nggak? Masbro…dirimu benar. Makanan halal ternyata susah dicari dinegara kita tercinta. 😦

black forest cakeMasih segar dalam ingatan kalau beberapa bulan lalu sempet mencuat berita mengenai Solaria (sebut nama boleh ya biar pada tahu) yang katanya belum punya sertifikat halal. Pas denger berita itu kebetulan banget kami sekeluarga baru aja makan disana. Kaget bukan alang kepalang dan hampir nggak percaya mendengar berita ini mengingat Solaria adalah salah satu tempat makan favoritku. Setelah aku cek dan ricek kesana kemari memang benar adanya kalo Solaria memang belum punya sertfikat halal, tapi menurut managernya sih sedang dalam proses pengajuan. Terus sempet baca salah satu postingan mbak Kaka Akin soal Solaria ini juga, yang ternyata salah satu pegawainya mengakui beberapa menu Solaria memang menggunakan AngCiu (arak), astaghfirullah!!!!

Lebih parahnya, setelah saya coba cek ke situs halalcorner asuhan mbak Aisha Maharani, banyak Kafe dan restoran dengan nama yang sudah kondang ternyata belum bersertifikat Halal. Bread Talk memang sempat punya sertifikat halal MUI tapi sekarang sudah expired dan tidak diperpanjang, begitu pula dengan JCO. Holland Bakery pun ternyata belum punya sertifikat halal loh, padahal toko kue ini sudah beroperasi lama banget yah. Menurut salah satu karyawan yang pernah kutanya sih cuma Black Forest nya aja yang pake Rhum, tapi jadi ngeri juga beli kue disitu lagi. Jadi teringat tahun lalu beli kue ulang tahun Nadia disini, hiks…

Terus terang jadi males rasanya makan diluar karena sekarang bawaannya jadi was-was sekaligus heran kok bisa para pengusaha kuliner ini hidup tenang dan bahagia sementara konsumen utamanya mereka yang muslim memakan makanan haram?? Naudzubilahimindzalik!! Aku keinget cerita temen yang lagi traveling ke Singapore beberapa waktu lali. Waktu itu dia melihat seorang perempuan berjilbab makan dengan lahapnya disebuah restoran China yang salah satu menunya mengandung babi. Pemilik restoran bahkan sampai bertanya sama si mbak, “Anda ini seorang Muslim apa nggak khawatir makan direstoran saya? saya punya menu babi lho?” Lhah….pie thoo!!!??? Si mbak makan dengan santai sementara pemilik restoran yang bukan muslim malah kethar kethir sendiri… ckckkck….. Memang sih yang dimakan nggak ada unsur babinya, tapi yakinkah si mbak ini pengolahan makanannya nggak dicampur atau mungkin menggunakan arak???

Beberapa tahun lalu, aku juga pernah membaca sebuah artikel mengenai protes keras yang dilayangkan beberapa duta besar negara Timur Tengah kepada pemerintah Indonesia (saat itu Jero Wacik masih menjabat sebagai Menteri Pariwisata) karena banyaknya complain yang datang dari warga mereka mengenai susahnya mencari makanan halal di Indonesia. Banyak turis muslim dari berbagai belahan dunia akhirnya urung ke Indonesia karena masalah ini. 😦 Andai saja pemerintah mau lebih memperhatikan urusan penting ini dan mewajibkan semua pengusaha kuliner mengantongi sertifikat halal MUI sebelum usahanya beroperasi. Kalau ada Undang-Undang yang jelas, pastinya kita semua nggak khawatir lagi ya.logo halal

Definisi Makanan Halal

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Sejujurnya aku juga nggak menyalahkan mereka sepenuhnya karena memang pemahaman kita mengenai urusan halal/haram ini masih sangat rendah. Apakah makanan haram itu hanya sebatas babi? Seperti apa sih makanan yang dikategorikan halal itu?? Aku juga bukan pakar soal ini, tapi dari beberapa artikel dan buku yang aku baca,kira-kira begini lah yang bisa kusimpulkan:

  1. Halal karena dzatnya. Artinya, makanan itu memang tidak dilarang oleh hukum syara’, seperti nasi, susu, telor, dan lain-lain.
  2. Halal cara mendapatkannya. Artinya sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Sesuatu yang halal tetapi cara medapatkannya tidak sesuatu dengan hukum syara’ maka menjadi haramlah ia. Sebagaimana, mencuri, menipu, dan lain-lain.
  3. Halal karena proses/cara pengolahannya. Artinya selain sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Cara atau proses pengolahannya juga harus benar. Hewan, seperti kambing, ayam, sapi, jika disembelih dengan cara yang tidak sesuai dengan hukum Islam maka dagingnya menjadi haram.

Point kedua dan ketiga lah yang biasanya luput dari perhatian banyak orang, termasuk juga aku. Akibat ketidaktahuan kita jadi menganggap enteng perkara yang satu ini, padahal berat sekali konsekuensi yang harus kita tanggung kalau sampai ada makanan haram mampir ke perut kita.

Banyak pengusaha yang urung mendaftarkan usahanya ke MUI karena berbagai hal, salah satunya adalah biaya yang mahal. Untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI memang biayanya cukup mahal, sekitar Rp.50.000.000. sertifikat halal tersebut berlaku lima tahun dan harus segera diperbaharui apabila sudah berakhir masanya. Untuk lebih jelas mengenai prosedul perdaftaran sertifikat Halal MUI bisa dilihat disini.

Sebenernya sih kalau para pengusaha itu mau jujur, untung yang mereka dapatkan dari bisnis kuliner jauh lebih besar daripada dana yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan sert

Advertisements

30 thoughts on “Cari Makanan Halal di Indonesia Susah???

  1. setujuuu semakin mengerti semakin was2, disini hanya bakeri2 di bawah supermarket aja yg punya label halal. yg rasanya kurang nendang, lebih ngeri lagi setelah baking sendiri, sambil memilah2 bahan, hoohohoho yang namanya bahan perasa harga yg dg alkohol sama non alkohol cm selisih goceng, dan ngeliatin para bakers2 chinnese selalu ngambil yang disitu. Teruss buah2 kaleng jg banyak yg diproduksi sama yg bareng2 mengkalengkan makanan non halal *hadooooohhh* siapa jamin yak cake2 shop make buah kaleng yang mana

    Like

  2. mb,,maaf,,biaya pngurusannya 50 nolnya sgitu brrti 50M ya? wow,,nilai yg fantastis emang,,pngusaha rumah mkn ato bakery biasa ya emang susah bwt dptin srtifikat halal,,pdhl breadtalk tu bakery favoritku kalo pas k semarang,,coz d kudus ngga ada,,

    Like

    • Astagfirullah.. Maaf Mbak.. My mistake.. Maksudku 50juta. Tu udh utk semua tes, mang mahal sih tp kn konsumen jd gak was was lg. Aku jg dulu suka bgt Bread Talk hiks…. Yuk blj bikin roti sdr aja 🙂

      Like

  3. Semahal itu ya ngurus sertifikat halal? *beneran baru tau*. Sampai 50 milyar? *asli kaget* Rp.50.000.000.000. —> ini 0 sebanyak ini milyaran kan ya?

    Padahal saya sempat baca di grup myhalalkitchen ada pengurusan SH gratis dari MUI. Wallahua’lam.

    Tapi emang seram sih, Mbak. Soal kuas yang ternyata banyak dari bulu babi juga bikin haram. Saya sekarang jadi suka masak roti sendiri aja. Biar lebih merasa aman.

    Like

    • Astagfirullah.. Maaf mak kebanyakan nol nya tuh. Maksudku 50juta..segera di edit deh maaf ya.
      Mang harganya cukup mahal krn semua sumber dicek msk, dr hulu smp hilir…
      Sekali lagi maaf ya 😦

      Like

      • Iya, Mbak. Gpp. Saya asli kaget tadi. Berapa kali ngitung 0 nya kirain mata saya yang salah 🙂
        makasih infonya ya mbak. Moga yang kita konsumsi selalu halal ya. Aamiin…

        Like

  4. saya juga rajin tanya mak…selain mencari sertifikat halal, seringkali yang saya tanya justru jual makanan non-halal ngg :D…kalau jawabannya ya, berarti jangan makan di sana…Tapi betul, lebih baik ekstra hati-hati karena halal bukan hanya tidak mengandung babi dan zat lain yang diharamkan, tapi restoran yang menjual ayam dan bebek (yang sebenarnya tidak diharamkan) tapi tidak disembelih dengan cara yang tidak benar, jadinya haram juga …saya suka liat di mal-mal leherrnya tidak disembelih tapi seperti ditusuk..well, pokoknya jangan lupa bertanya dan kalau tidak yakin, lebih baik tidak usah :D…

    Like

    • Setuju mak, dulu aku malu kl mo nanya2 gitu, pasti dikira sok lah apalah.. Skr tau fakta yg ngeri gni ga perlu malu lg drpd sesat di neraka..
      Moga2 umat muslim Indonesia ga sungkar lg nanyain halal haram demi kebaikan sdr, buat para penjual jg jd lbh hati2 lg

      Like

  5. Saya juga sempet diketawain temen dulu, klo dapet flyer makanan yang pertama dilihat adalah logo halalnya hehehe. Malahan makanan impor singapore/malaysia mereka udah pakai logo halal. Udah gitu, kemarin searching kosmetik, ternyata banyak banget merk kosmetikl luar yang terkenal bangett dan ngga halal 😦 makin bete saya mba hahaha

    Like

    • Lain x kl diketawain blg aja ‘mang kalian yakin mknan dsni halal? Bahannya apa aja, Gmn cara nyembelihnya, peralatan nya jg terbuat dr apa?? Kl ga yakin lbh baik nanya drpd ibadah 40 hari ditolak’ 🙂

      Like

  6. Mungkin yang aman ya di Warteg

    Tugas kita semua adalah memberikan penyuluhan pada pengusaha warung …
    agar mereka bukan saja Halal … tapi juga Thoyib …
    bahannya halal … caranya pun halal dan baik plus propper menurut standart kesehatan

    Salam saya

    Like

  7. Mbaaak, maaf ya… Sbenernya yang saya maksud di postingan tempo hari itu bakso lapangan tembak, bukan solaria. Hmm… salah saya juga sih, karena gak nyebutin nama resto itu di postingan. Apa mending saya klarifikasi aja ya, Mbak?

    Like

  8. Kalau pernah ada sertifikat halal dan masa berlakunya habis, apa itu menjadi haram ya Mba ? Karena hal ini tidak ditonjolkan di beberapa renstoran atau rumah makan besar bahkan di rumah makan kecil sekelas warteg dan pedagang kaki lima, belum lagi makanan yang di warung-warung yang ada di indonesia, sedangkan dalam pengawasan yang mebawahi dalam hal seperti ini pun sebenarnya juga menjadi tanggung jawabnya. Kalau sudah berurusan dengan birokrasikan ada aja masalahnya, kalau mau jujur coba di kupas sampai masalah dasarnya, Jangan yang di tonjolkan pas masalahnya saja. Jadi banyak yang buang badan dan ledekan.Kasihan juga melihat nasib birokrasi bangsa ini. Semoga bisa di atasi dengan cepat permasalahannya, dan jangan pada buang badan dan saling menyalahkan.

    Salam wisata,

    Like

    • Bisa jadi begitu, karena mungkin juga setelah lima tahun bahan makanan yg digunakan berubah, makanya hrs selalu di update supaya shalih kehalalanya. Andaikan pemerintah tegas mengatur hal ini insyaallah konsumen ga akan dirugikan lagi..

      Like

    • Nah sama kita mbak, sebagai pencinta wiskul jd was was juga kl jajan diluar. Makanan kaki lima pun nggak jaminan halal. Alangkah baiknya selalu bertanya dlu ke penjual sebelum beli drpd was was 🙂

      Like

  9. harusnya pemerintah menyediakan subsidi untuk biaya sertifikasi halal. karena kalo semahal itu, para pengusaha kuliner yg masih baru merintis mulai kecil2an bisa bangkrut dong, ga jadi usaha coz modalnya udah habis duluan buat dapat sertifikasi halal. mudah2an pemerintah merhatiin masalah ini ya. biar orang2 yg lagi pengen nyoba usaha kuliner nggak jiper takut ga laku karena ga punya biaya buat minta sertifikasi halal 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s