Resensi Novel Betang, Cinta yang Tumbuh Dalam Diam

betang

Judul : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 175 halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6
Harga : Rp 29.600

Akhirnya…. setelah mengarungi hujan dan macetnya Surabaya di hari Sabtu, berhasil juga mendapatkan novel yang selama ini kuidam-idamkan, sesuatu bangetss!! 🙂 Kenapa gitu penasaran banget sama novel ini? Alasannya cuma satu sih, pengen nostalgia. Yup.. setting cerita novel yang mengambil tempat di tanah Borneo, tempat dimana aku pernah menjalani sebagian masa kecilku ini bikin aku penasaran sampe rela menjelajahi beberapa toko buku. 😉

Sesuai dugaan, memasuki halaman demi halaman di novel ini aku seperti melayang ke tanah Borneo. Deskripsi penulis yang detail mengenai kehidupan masyarakat di tepi sungai Barito, Kalimantan Tengah dan rumah adatnya, Rumah Betang, membuat pembaca dapat dengan mudah memasuki jalan cerita. Rumah Betang inilah yang menjadi nyawa cerita sekaligus tempat terpenting bagi sang tokoh utama, Danum. Dalam rumah Betang inilah Danum menyimpan semua kenangannya bersama Kai (kakek), Ini (nenek),  Arba, kakak lelakinya, dan Dehen, cinta masa kecilnya.

Novel Betang, menceritakan tentang kisah kehidupan Danum dalam usahanya meraih mimpi menjadi seorang atlet dayung nasional. Menurutku ini tema yang menarik banget, karena jarang atau bahkan mungkin belum ada novel yang mengupas kehidupan seorang atlet dayung di Indonesia. Dayung memang cabang olah raga yang sering mengharumkan nama Indonesia namun sayang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Cara penulis menggambarkan kehidupan atlet dayung dan seluk beluk olah raga ini menurutku sangat membantu pembaca yang awam dalam dunia ini, termasuk aku juga hehee.

Danum sendiri di gambarkan sebagai gadis yang lugu dan sederhana. Ia tak pernah mengenal orang tuanya dan di besarkan oleh kakek neneknya sejak kecil. Mereka berdualah yang menjadi cinta dan tumpuan hidup Danum. Mimpi Danum adalah menjadi atlet dayung yang dapat mengibarkan bendera Indonesia di luar negeri, namun mimpi ini terganjal oleh kebimbangan hatinya. Ia tak rela meninggalkan rumah Betang dan kakek yang sangat di cintainya. Datangnya surat panggilan seleksi atlet dayung dari pelatda membuat hati danum bimbang, ingin mengejar mimpi namun tak tega meninggalkan Kai, sosok yang begitu di cintainya. Sosok Arba, sang kakak lah yang menjadi penyemangat Danum untuk meraih mimpinya. Kehadiran sang kakak yang penuh perhatian dan sangat mencintai sang adik membuat Danum mulai yakin untuk bangkit dan meraih mimpinya. Selain Kai, Arba lah pemberi semangat terbesar bagi Danum. Meskipun kata-katanya sering kali pedas, tapi kalimat dari Arba lah yang selalu berhasil membakar semangat Danum.

“kamu kira kesuksesan akan datang begitu saja tanpa diusahakan?” “Aku menggeleng.

“Aku selalu gagal. Kakak tahu kan?” Itu karena kamu tidak pernah sungguh-sungguh!”

“Aku takut mengecewakan Kai kalau aku gagal lagi.”

“Apa menurutmu, tidak lebih kecewa melihatmu menyerah sebelum mencoba?”

 (Shabrina Ws, 2013: 3)

 

Novel rasanya nggak lengkap tanpa bumbu asmara ya, begitu pula novel ini. Kisah cinta Danum dengan Dehen pun kembali mekar saat mereka berdua bertemu di Pelatnas. Dehen yang kini sudah menjadi atlet nasional rupanya tak pernah melupakan teman masa kecil yang memiliki impian sama. Kisah cinta keduanya dituturkan secara sederhana dan lembut, membuat novel ini makin asyik dibaca. Kehadiran Sallie, yang jadi pihak ketiga dalam kisah cinta Dehen dan Danum juga bikin cerita makin menarik. Kira-kira cinta mereka bersatu nggak ya?? baca aja sendiri 😛 Selain kisah cinta Danum, Ada juga kisah Kai dan Ini yang romantis. Setiap kali membaca keromantisan Kai dan Ini aku menyelipkan doa semoga bisa semesra mereka sampai tua nanti. 😉

 

“Mereka selalu begitu sepanjang yang aku ingat. Berdebat panjang seperti orang yang hendak bertengkar, tapi selalu diakhiri dengan tawa yang membuat punggung bungkuk mereka terguncang-guncang. Kadang, aku cemburu pada nenek dan kakek, kalau sudah tertawa dan bercerita tentang masa lalu, mereka seperti memiliki dunia sendiri.” (Shabrina Ws, 2013: 7)

 

Meskipun menurutku konflik dalam novel ini cenderung datar tanpa kejutan, novel ini tetap menjadi bacaan yang asyik karena memang temanya yang berbeda dari kebanyakan novel cinta. Novel Islami inipun menyelipkan ajaran-ajaran Islam dengan cara yang tak menggurui, pilihan katanya juga apik dan menyejukkan (langsung kebayang mbak Shabrina yang lemah lembut hehe). Satu lagi kekuatan novel ini adalah banyaknya  kata-kata indah yang penuh dengan pesan moral. Penggalan kata mutiara yang selalu bisa di temukan di awal bab, membuat banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari novel Islami ini. Ini salah satu pesan moral yang aku suka banget, “Kita bisa memilih, tetap membenci dan terus menerus sakit hati, atau memaafkan dan membiarkan langkah kita menjadi ringan.”

Overall novel ini oke banget dan asyik jadi teman di hari hujan heheh, kecuali covernya. Menurutku warna covernya lembuuuut banget, bahkan terlalu lembut. Pengalamanku di toko buku yang harus keliling dua kali untuk bisa menemukan novel ini karena warnanya yang begitu mendayu-dayu membuat novel ini “tak terlihat.” Saya bahkan harus tanya ke mbak SPG untuk bisa menemukannya, sayang sekali kan novel sebagus ini terlewat dari pandangan orang-orang hanya karena covernya? 😦

Well… selamat membaca, semoga resensi (yang masih nggak beraturan ini) cukup membantu dan bikin pensaran kalian pengen baca buku ini? Bagi yang pengen kenalan langsung sama sang penulis, sila follow di @shabrinaws_ atau boleh juga mampir ke blognya di www.shabrinaws.blogspot.com

betang

 

 

Advertisements

19 thoughts on “Resensi Novel Betang, Cinta yang Tumbuh Dalam Diam

    • insyaallah ga da pakdhe. typo hampir ga ada, jalan cerita juga oke walaupun rada datar menurut saya. yang paling menarik itu kata2 mutiaranya dhe yang selalu ada di tiap bab.
      terima kasih sudha berkunjung de, salam dari semarang 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s