Manusia di Sekitar Kita

Assalamualaikum semua!! πŸ™‚

Sebagai seorang emak-emak yang keseharian tidak terlepaskan dari Social Media, aku akui aku termasuk jarang update status. Bukan seperti ABG yang selalu lapor setelah melakukan apapun, atau orang yang doyan selfie kemudian dipamerkan pada seluruh jagad maya, aku lebih suka menulis status kalau memang merasa ada yang ingin kutuliskan saja. Tak perlu lah kuumumkan pada semua orang apa yang sedang terjadi dalam hidupku setiap hari. Bosen juga kali ya yang baca. πŸ˜› Tapi berhubung hari ini ada request special dari Pakdhe Abdul Cholik, baiklah mari kita uprek-uprek status Fb ku yang memang nggak banyak itu.

Setelah wara-wiri di wall FB, ketemu lah sebuah status yang aku suka. Sebuah status sederhana dan sangat khas emak-emak, namun dalam sekali maknanya buatku. Status yang aku buat tanggal 12 Februari 2014 itu begini bunyinya:

β€œJangan pernah meremehkan kehadiran orang-orang di sekitarmu, karena bisa jadi mereka lah yang membuat harimu jadi sempurna.”

Β Huaaa… Budhe sayur mana …budhe sayuuuurr….”

Β 

statusFB1Tuuh betul kan, statusnya khas emak-emak yang lagi galau? πŸ˜› Gimana nggak galau kalau sudah seminggu lebih budhe sayur yang biasa keliling kompleks perumahan tak jelas arah rimbanya sedangkan jarak dari rumah ke pasar lumayan jauh. Setiap pagi aku dibuat bingung karena budhe sayur tak kunjung hadir. Bingung harus menyediakan menu makan apa untuk hari ini? Dapur yang biasanya riuh rendah dengan segala macam sayur mayur dan lauk pauk seketika hening … 😦

Buat orang lain hal seperti ini bukan masalah besar, tapi tidak bagiku. Seperti komentar mak Artiningrum Astiti Sunaryo yang menyarankan untuk langganan catering. Selain membeli makanan matang di warung harganya lebih mahal dan rasanya pun belum tentu sesuai selera, ada satu alasan penting di balik kegalauanku saat harus membeli makan diluar. Nadia punya alergi terhadap MSG sehingga aku harus berhati-hati dalam memilih makanan apa yang dikonsumsinya. Kalau masak sendiri insyaallah di jamin aman, tapi kalau diluar? Hanya Allah dan penjual yang tahu bumbu apa saja yang dimasukkan kedalam masakan yang dijualnya.

Sebuah contoh sederhana bagaimana manusia sesungguhnya tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk melengkapi hidupnya. Budhe sayur bukan saudara atau tetangga tapi berkat jasanya lah terhidang masakan sehat setiap harinya dalam rumah kami. Orang yang sering kali mendapat omelan ibu-ibu ketika harga sayur dan bahan makanan lainnya naik, padahal itu sama sekali bukan kesalahannya.

Alhamdhulilah aku nggak pernah ikut ngomel saat ibu-ibu lain mengeluh bahkan menawar tanpa perasaan. Aku tahu betul budhe sayur bukannya senang saat harga sayur merangkak karena dia pasti akan kehilangan pembeli tapi memang tak ada cara lain selain menaikkan harga demi mendapat sedikit untung. Kenapa sih kita tidak saling memahami bahwa sesungguhnya kita saling membutuhkan? Kita butuh bahan makanan yang dijual sang penjual sayur dan penjual pun butuh uang dari kita untuk melanjutkan kehidupannya?

tukang sayur

Kadang kita merasa terlalu tinggi sehingga meremehkan orang lain. Orang lain yang kadang kita anggap tak penting bahkan tak sederajat sesungguhnya mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang tidak bermanfaat. Tidak ada satu manusia pun yang mampu menjalani hidupnya tanpa bantuan orang lain.

Saat itu aku jadi teringat nasehat yang seringkali mama ucapkan, β€œberbuat baiklah pada siapa saja, karena sesungguhnya saat kamu sedang berbuat baik pada orang lain, kamu sedang berbuat baik pada dirimu sendiri.” Maka aku pun setia menanti budhe sayur setiap pagi, menunggu kejutan apakah yang akan dibawanya pagi itu untukku. Seekor ikan tengiri kesukaan abang atau mungkin udang kesukaan Nadia?? Masakankku setiap harinya sungguh tergantung pada apa yang dibawa budhe sayur hari itu. πŸ˜‰

Β Kadang bila ada baju Nadia yang sudah kekecilan atau sedikit beras dan jajanan di rumah akan dengan senang hati kuberikan padanya. Budhe sayur pun akan menyimpankan sayur yang bagus bahkan memberiku bonus beberapa buah jeruk nipis saat melihatku yang sedang flu berat dan kehilangan suara pagi ini. β€œKangge tombo mbak … jeruk di peres terus di paringi madu. Insyaallah waras,” begitu pesan budhe sayur padaku pagi ini. Aku bahkan tak perlu mengeluh sedang sakit, sunguh sebuah rejezi yang harus disyukuri. πŸ™‚

Percayalah sekecil apapun kebaikan dan perhatian kita pada orang lain, Allah akan menggantinya dengan berlipat. So jangan pernah remehkan kehadiran mereka yang ada di sekitarmu ya. πŸ˜‰

Status yang kedua masih berhubungan dengan orang lain, kali ini tentang si kecil Nadia yang mulai terpengaruh logat Jawa Timuran. Begini statusku waktu itu:

NadiaΒ Β Β Β Β Β Β Β Β  : Yak apa sih mama iki, diajak main bujuk-bujukan ae nggak mau?! (dengan logat Jawa Timur yang super medok)

Mama : … Mlongooo… bujuk-bujukan itu apa sih dhe?

Β 

statusFB2Terus terang aku tidak pernah mengajarkan anak berbahasa Jawa. Bukan apa-apa, ya karena memang nggak bisa dan nggak biasa. Di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Nadia yang tidak pernah diajari berbahasa Jawa, perlahan logatnya mulai terdengar medhok Jawa Timur bahkan seringkali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jawa yang tidak kuketahui artinya. Seperti kata bujuk-bujukan yang dalam bahasa Jawa Timuran artinya pura-pura. Sampai detik Nadia mengucapkan kata itu, aku sama sekali nggak ngerti apa artinya dan Mas Belalang Cerewet, salah seorang yang memberi komentar status diatas lah yang mnejelaskan kata itu berarti main pura-pura hehehhe.. πŸ˜›

Pengaruh lingkungan dan orang di sekitar yang kadang tanpa disadari menyusup dalam hidup kita dan memberi corak dan warna dalam kehidupan. Ada yang postif namun tak jarang pula ada yang negative, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Seperti halnya kerbau dan burung jalak yang saling membantu semoga kita pun bisa selalu memupuk sikap toleransi dan menghargai antar sesama manusia. Bukankah hidup ini terlalu indah dan terlalu berharga untuk disia-siakan? Happy Monday guys. πŸ™‚

Giveaway-Sehari

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

Advertisements

40 thoughts on “Manusia di Sekitar Kita

  1. Percayalah sekecil apapun kebaikan dan perhatian kita pada orang lain, Allah akan menggantinya dengan berlipat. So jangan pernah remehkan kehadiran mereka yang ada di sekitarmu ya. Kalimat penutup yang manis. Semanis Mak Muna..:)

    Like

  2. Setuju dengan nasihat Mamamu, Dik. Memang dengan berbuat kebaikan pada orang lain kita sebenarnya sedang menyusun kebaikan untuk kita pada masa depan, yakni kebaikan Tuhan dalam bentuk lain. Entah kemudahan kerja atau berkah yang lain.

    Serius loh komentarku ini bukan bujuk-bujukan, xixixixi — salam kecup buat Nadia πŸ˜‰

    Like

  3. “…saat kamu sedang berbuat baik pada orang lain, kamu sedang berbuat baik pada dirimu sendiri …”

    Ini benar sekali …
    dan berlaku pula sebaliknya … saat anda sedang berbuat jahat pada orang lain … sesungguhnya anda telah mendzolimi diri sendiri

    Salam saya Mbak Muna

    (24/3 : 1)
    (yang pertama untuk hari ini)

    Like

  4. Sama mbak Muna, masakanku di rumah juga tergantung sayur apa yg dijual tukang sayur atau warung, kalo keabisan,kebingungan deh hehehe
    Salam sayang buat Nadia ya, pengen denger logat jawa medoknya deh πŸ˜€

    Like

  5. Tukang sayur itu idola hampir semua ibu-ibu rumah tangga. Hehehe.. Cuma di Surabaya ini aku selalu pengen tepok jidat tiap kali belanja, baik di pasar atau tukang sayur karena terkendala bahasa 😦 Jadi susah kalau mau ngobrol lama-lama. Bahkan sayuran pun beda penyebutan. Ada yang konsisten dgn bahasa Indonesianya begitu tahu aku gak bisa jawa timuran, tapi ada juga yg nyampur dgn jawa timuran. Lha aku gak mudeng 😦

    Eh yuk kapan ketemuan yuks..

    Like

  6. Saat seeorang berbuat kabaikan kepada orang lain maka dia akan memberikan kebahagiaan berkali kali kepada orang itu. Pertama ketika seeorang itu menerima kebaikan dia akan bahagia, kedua dan seterusnya yaitu ketika seseorang itu kembali mengingat kebaikan yg pernah dia dapatkan maka dia akan kembali bahagia, mungkin lima, sepuluh bahkan duapuluh tahun lamanya dia akan terus bahagia dan mengenang kebaikan itu.

    Like

  7. Lingkungan memang memiliki peran yang besar. kalau gak bisa nempatkan diri dalam lingkungan yang buruk, misalnya. bisa-bisa ikut berlaku seperti itu juga. harus bisa memilah mana yang patut diteladani, dan yang mestinya dihindari yah, mbak.

    Sukese tuk GAnya yah, mbak πŸ™‚

    Like

  8. setuju banget mak Muna….jangan pernah meremehkan kehadiran orang lain.
    Karena sebagai makhluk sosial, kita pastinya selalu butuh orang lain…..

    wah, sama ya nama anak kita, anak bungsuku juga namanya Nadia ,mak πŸ™‚
    salam sayang untuk Nadia tjantik ….

    Semoga sukses di GA nya PakDhe ini…

    Salam

    Like

  9. Saya juga jarang, atau hampir gak pernah update status di FB nih Mbak…
    Buat saya FB hanya jadi ajang untuk share postingan blog dan juga bergabung dengan komunitas-komunitas blog.
    Saya laebih suka bermain di twitter, walau sekarang juga sudah mulai jarang karena sedang agak bosan.

    Sukses dengan GA nya, Mbak.

    Salam,

    Like

  10. Itu status yang pertama, keren banget… hanya gara2 nungguin tukang sayur bisa jadi status keren hahaha…
    BTW di foto kok gak keliatan bude sayur? Kok yang ngerubungi tukang sayur malah bapak2? ibu2nya manaaa? #salahfokus

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s