Aku, Hujan, dan Secangkir Cerita Tentang Kita

Hujan menyapa bumi sore ini. Menyisakan mendung dan aroma khas yang selalu kurindukan. Sejuknya udara yang berhembus dari sela-sela jendela kembali mengingatkanku padamu. Kau dan hujan adalah perpaduan sempurna yang selalu bisa membuatku tersenyum. Jangan sampai waktu terbuang, aku ingin menikmati hujan sore ini bersamamu.


Hembusan angin sore yang menyatu dengan aroma khasmu yang tajam membawa anganku mengembara di masa aku mengenalmu untuk yang pertama kalinya. Kehadiranmu selalu disambut dengan penuh kebahagiaan oleh seluruh anggota keluarga. Pagi, siang, sore, ataupun malam, keberadaanmu selalu mampu menghangatkan suasana rumah kami.

Awalnya ibu tak mengizinkan aku berada dekat denganmu. Entah mengapa keberadaanmu selalu bisa membuat rasa penasaranku memuncak. Ingin sekali aku menyentuh dan merasakan kehangatanmu. Hingga akhirnya di suatu sore yang hujan, persis seperti saat ini, ibu memperkenalkanku padamu. Segera saja wangimu menjalari indera penciumanku. Secangkir kopi susu yang di seduh dengan penuh cinta oleh ibunda tersayang. Sejak detik itulah aku tahu kita akan menjadi sejoli yang tak terpisahkan.

Kau selalu hadir dalam setiap fase kehidupanku. Dimanapun aku berada disitu pula kau ada menemaniku. Ketika aku tumbuh menjadi dewasa, patah hati, mengenal arti cinta, menikah, dan menjadi seorang ibu, kau selalu siap menyemarakkan setiap episode kehidupanku. Rasa manismu menyempurnakan hari-hariku yang indah, dan pahitmu selalu berhasil menetralisir kesedihanku.

nescafe breakfast-1259831771
Di pagi hari sesuai shalat Subuh, kau lah yang selalu bisa membuatku tersenyum. Hanya dengan menghirup harummu, aku tahu hari ini akan menjadi hari yang indah. Semerbak wangimu menari-nari, menyusup diantara obrolanku bersama suami tentang agenda kami hari ini sembari menyiapkan sarapan dan bekal si kecil. Pagi ini kita akan berpisah sesaat, aku harus berbagi ilmu dengan murid-murid tercinta, tapi kita akan bertemu lagi secepatnya. Aku tidak ingin melewatkan sore hari tanpamu.

Aku merindukanmu. Setelah seharian penuh berkejaran dengan waktu dan seribu satu agenda, saat ini aku hanya ingin merasakan kehangatanmu menyusup disela-sela kulitku. Menikmati langit sore dengan gradasi ungu dan jingga sambil menemani si kecil bersepeda, bersamamu. Seketikan kehangatanmu meredakan lelahku. Bersamamu, sejenak aku melupakan riuh rendah beban kehidupan. Kita bertiga, berbagi sore yang indah, saling mengisi, saling melengkapi.

coffee-35
Aku teringat malam-malam yang kita habiskan berdua di kamar kosku yang mungil di kota Jogja beberapa tahun silam. Kita dan setumpuk buku, artikel, dan jurnal yang harus kubaca sebagai bahan referensi thesisku. Semenjak aku hamil, banyak orang yang mengingatkan untuk sementara menjauh darimu tapi aku tak bisa. Siapa lagi yang akan menemani malam-malam panjangku ketika aku harus begadang demi menyelesaikan thesis sementara suami berada nun jauh di Surabaya? Kau dan musik Jazz yang mengalun merdu dari laptopku lah yang berjasa mengantarkanku meraih gelar Master. Terima kasih sobat.

Kau juga selalu ada di saat bahagiaku bersama keluarga tercinta. Sejauh apapun kami berpetualang, kau tak pernah jauh dari kami. Bahkan dalam setiap perjalanan, kami selalu menyempatkan mencarimu di berbagai tempat di Indonesia. Kopi Gayo, Kopi Manggar, Kopi Toraja, apapun jenisnya selalu menjadi sesuatu yang kami tunggu. Hangat dan menenangkan, itulah kesanku padamu.

Kopi hitam, Cappucino, Mochacino, Frappucino, Coffee Late, Espresso, Americano, atau apapun julukan yang mereka berikan padamu, kehadiranmu akans selalu menyempurnakan hari-hariku. Seperti senja ini, berteman gemericik air hujan dan secangkir kopi hangat, aku merasakan hidupku begitu lengkap.

Bahagia itu sejatinya sangat sederhana. Mensyukuri segalanya yang ada dalam hidupmu, sekecil apapun itu. Yakin bahwa akan selalu ada pelangi seusai hujan. Bahkan secangkir kopi hangat dan gemericik air hujan pun dapat menghadirkan senyum di wajahmu dan semangat dalam menjalani kehidupan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?

Aku, hujan, dan secangkir cerita indah tentangmu.
Semarang, 28 November, 2014.

coffee-42

Advertisements

16 thoughts on “Aku, Hujan, dan Secangkir Cerita Tentang Kita

  1. Huaa….kopi! Manis banget tulisannya Mbak Muna. Dulu aku pecinta kopi banget, setiap hari musti ngopi dua cangkir. Sekarang tidak lagi, ngopi sesekali terkadang sampai seminggu tak ngopi. Ha..ha… btw ini kontes ya Mbak? Sukses yaa πŸ™‚

    Like

  2. Aku juga pecinta kopi Mbak… Apalagi Nescafe….Hmm…..harum kopi senantiasa menemaniku ketika jemariku menyentuh tombol keyboards pada my lappie…menuliskan bait demi bait kata dan merangkainya menjadi sebuah tulisan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s