Untukmu Segalanya

Dear Mama …
Seandainya aku bisa membeli dunia dan seluruh isinya untukmu ma. Tanpa cinta dan kasih sayangmu yang tak berbatas tak mungkin aku menjadi diriku yang sekarang ini. mama lah supporter setiaku. Hanya doa mama lah yang bisa membantuku melewati semua episode kehidupanku. Kecantikan, kelembutan, kesabaran, dan keikhlasan mama lah yang selalu menjadi teladanku. Mama adalah sosok perempuan paling sempurna bagiku dan semoga kelak aku bisa menjadi ibu sebaik dirimu. Happy birthday mom, I love more than words can say my dear mother 🙂

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295
Duhai Mama ….
Terima kasih atas cinta dan kesabaran mama yang tak berbatas padaku. Menjadi anak yang paling berbeda diantara ketiga anakmu tidaklah mudah buatku ma, tapi semangat dan dukungan mama membuat semuanya jadi lebih indah. Entah karena mama saat hamil aku ngidam durian atau bukan 😛 yang jelas aku terlahir sangat berbeda dari kedua saudaraku, mama paham betul itu. Banyak keanehanku yang seringkali bikin mama kesal tapi mama tak pernah sekalipun membandingkanku dengan orang lain. Mama selalu menerima dan mencintaiku apa adaya. Makasih ya ma 🙂

Mama ingat saat aku masih balita? Setiap kali asmaku kambuh aku hanya mau tenang saat dalam gendongan mama. Merasakan jantung mama di dekatku, mendengar mama bershalawat, membuatku tenang. Maaf ya ma, aku lupa kalau saat itu pasti mama lelah dan ngantuk. Mama toh tetap bersamaku, menemaniku. Aku pun ingat saat SD, ketika asmaku kambuh, aku sudah menahan batukku agar mama tak mendengarnya. Tapi mama tetap terbangun, padahal mama tidur di kamar bawah dan aku di atas. “Perasaan mama itu selalu nyambung sama anaknya,” begitu kata mama sambil menggosok leherku dengan Vicks. kenangan itu adalah salah satu kenangan terindahku bersama mama yang tak terlupakan.

Mama adalah Ratuku, begitu yang kutanamkan di hati sejak kecil. Setiap ulang tahun mama atau hari ibu aku selalu memberimu kejutan. Hadiah kecil dan sederhana yang selalu membuatmu terharu. Bunga dari kertas krep buatan sendiri, voucher pijat selama seminggu, puisi, dan beberapa hadiah remeh temeh lainnya yang sama sekali tak sebanding dengan cinta yang sudah mama berikan pada kami semua. Tapi mama selalu menerima semuanya dengan senyuman dan pelukan.

foto diambil dari sini

foto diambil dari sini

Mama … seandainya aku bisa memutar waktu…
Kalau ada yang paling kusesali dalam hidup adalah membuat mama menangis. Dan itu seringkalli kulakukan saat aku ABG. Darah muda dan egoisme menjauhkanku dari mama. Hampir setiap hari kita berdebat, bahkan aku berteriak di depan mama. Entah apa yang merasukiku waktu itu. Rasa keingintahuanku yang tinggi dan aku yang tak ingin di kekang membuat hubungan kita merenggang.

Kalau mengingat masa itu rasanya ingin sekali aku memunguti semua tetes airmata yang sudah mama keluarkan untukku. Aku yang keras kepala dan selalu ingin mencoba semua hal baru bahkan nekad menerabas aturan yang mama sudah tekankan pada kami hanya demi kesenangan sesaat. Aku yang seringkali membantahmu, bahkan berharap punya ibu yang lain. Bagaimanapun kerasnya hatiku mama masih dengan setia mencintai dan berdoa untukku. Seandainya aku bisa kembali ke masa itu, ingin sekali aku menarik semua perkataanku dan memelukmu ma. Betapa besar dosaku membuat hati yang indah itu terluka. Maafkan aku yang begitu egois ya ma.

Kini setelah menjadi ibu aku tahu benar bagaimana beratnya tanggung jawab yang mama pikul. Membesarkan anak perempuan bukanlah perkara mudah, dan mama tidak main-main dalam menjalankan amanah yang Allah berikan. Keinginan mama hanya satu, agar kami menjadi anak shalih dan shalihah. Meskipun kita harus berdebat bahkan bersitegang setiap hari mama tidak pernah surut langkah. Keteguhan mama menjalankan aturan Allah lah yang menyelamatkanku. Tanpa keteguhan itu entah apa jadinya diriku ini.

Aku ingat suatu hari aku pernah berkata pada mama dan papa kalau aku tidak tertarik masuk IPA. Aku tak tertarik belajar fisika dan pelajaran lain yang berhubungan dengan angka, bahkan keinginan mencoba pun tak ada. Tapi aku takut bila mama dan papa kecewa dan malu punya anak yang memilih jurusan IPS. Satu jawaban mama yang aku ingat hingga sekarang.

“Kalau hanya ada satu bunga di dunia ini alangkah membosankannya. Dari beberapa jenis bunga akan di dapat karangan bunga atau bahkan taman yang indah. Manusia punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Ada yang unggul di bidang eksakta, ada yang ahli di bidang agama, bahasa, olahraga, dan sebagainya. Kalau di dunia ini hanya ada ahli fisika, siapa yang mengajarkan ilmu lainnya? Muna kurang bisa pelajaran eksakta tapi punya kelebihan di ilmu bahasa dan sosial. Pilih jurusan yang Muna suka, bukan yang mama dan papa suka. Muna yang menjalankan. Kami mendukungmu asalkan kamu mau belajar sungguh-sungguh.”

Jauh sebelum psikolog bernama Howard Gardner memperkenalkan teori “multiple inteligences,” mama telah berkeyakinan bahwa Allah menciptakan semua mahluknya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ketika kurikulum pendidikan hanya berpihak pada “si jago matematika” dan menelantarkan anak cerdas lainnya, mama tak pernah ragu untuk selalu mendukungku. Anak dengan kecerdasan musik, verbal, linguistik, spasial, interpersonal, intrapersonal, dan kinestetik tinggi pun layak mendapat apresiasi. Itu yang selalu mama yakini dan keyakinan itulah yang mengantarkan aku meraih cita-citaku.

Dan sejak hari itu aku berjanji akan membuat kalian bangga padaku. Dengan kerja keras aku menjadi lulusan terbaik di seluruh jurusan IPS di SMA ku. Melihat mama dan papa bahagia dan bangga, tujuanku pun tercapai. Aku memang tidak mengikuti jejak papa sebagai dokter, tapi aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Cinta dan dukungan mama yang seluas samudra lah yang membuatku bersemangat melangitkan dan mewujudkan semua mimpiku. Semoga setiap pahala yang mengalur dari ilmu yang kusampaikan pada mahasiswaku, mengalir pula pahala untuk kalian. Amiiinnn…..

mi familia :)

mi familia 🙂

Ibumu …. ibumu …. ibumu….. kemudian ayahmu …..
Tak mungkin aku bisa membalas semua cinta dan kasih sayang mama. Aku tidak pernah menyampaikan langsung pada mama mengapa akhirnya kami kembali ke Semarang? Sebenarnya mama lah alasan utamaku kembali ke Semarang. Jika bukan karena ingin menemani mama, aku lebih memilih tinggal di Sidoarjo. Ya ma, aku memang mencintai kehidupanku di Sidoarjo, tapi aku jauh lebih mencintai mama. Aku ingin berada dekat dengan mama, menjadi sahabat mama, dan mengurangi kesepian yang mama rasakan.

3 tahun mama hidup dengan penyakit batuk yang berkepanjangan. Puluhan dokter mama datangi, entah berapa ratus obat yang sudah mama telan, sayangnya penyakit itu tak kunjung sembuh. Akhir-akhir ini mama bahkan sering terkena asma. Siapa yang lebih memahami apa yang mama rasakan daripada aku ma? Aku yang sejak balita bersahabat dengan asma. Mama yang selalu setia menggendongku saat asmaku kumat. Sekarang, meskipun aku tak kuat menggondongmu, setidaknya izinkan aku berada di sisimu, menemanimu, memberikan obat, atau sekedar membalurkan viks untukmu.

Ma … saat ini Allah memberikan kesempatan untukku membalas semua kebaikan dan kasih sayang mama, meskipun hanya sedikit. Allah sudah membukakan jalan untuk kami agar bisa lebih dekat dan berbakti pada mama di saat usiamu yang semakin menua. Izinkan aku menebus semua airmata yang sudah pernah mama teteskan untukku, akibat kenakalanku dulu. Izinkan aku membahagiakan mama dengan semampuku. Izinkan aku menjadi pelipur rara mu ma. Izinkan aku mengobati luka yang mungkin pernah kutorehkan di hati mama.

Semoga dengan kehadiran kami bertiga dapat membawa kebahagiaan dalam hidup mama. Meskipun belum banyak yang bisa kuberikan pada mama, setidaknya kami bertiga selalu punya cinta untuk mama. Selamat ulang tahun mama ku tercinta, semoga Allah memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam hidup mama. Semoga Allah memberiku kesempatan untuk membahagiakan mama selalu. 🙂

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

Advertisements

23 thoughts on “Untukmu Segalanya

  1. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    Like

  2. Kalau ingat masa pemberontakan, terbayang sekarang aku akan menghadapi sepasang anak yang berinjak remaja. Sanggup akau sekuat Mama? entahlah. Terkadang aku heran darimana Mama mempunyai energi yang tak pernah habis menghadapi anak-anak dengan 1001 masalahnya? Tuhan sungguh Maha segalanya, menciptakan sosok mama bagi kita.

    Like

  3. Do’a, dukungan serta perhatian dari kerabat yang akan menjadi sumber kekuatan seorang Ibu.
    Nulis tentang Ibu, mberebes mili aku mbak.
    Salam hormat untuk Mama mbak Muna, semoga selalu diberikan kesehatan.

    Like

  4. Berbicara mengenai Ibu … Mama … Bunda … Ummi …
    memang selalu mengharu biru …
    akan ada banyak sekali didikan, jasa, ajaran dan laku kasih sayangnya untuk kita anak-anaknya …
    yang entah apakah kita bisa membalasnya atau tidak …

    Salam saya Mbak
    (8/12 :

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s