Ikhlas Inside

Assalamualaikum Sahabats 🙂
Sebenernya bukan gayaku banget si curhat begini. Aku lebih suka berbagi kebahagiaan daripada kesedihan. Tapi setelah dipikir-pikir ini bukan kesedihan, aku justru bersyukur. Menyadari sesuatu yang sebelumnya belum kumiliki. Rasa ikhlas. Dan itu semua berkat bewe ke rumah dua orang blogger, om Nher dan mak Dwi Puspita Nurmalinda. So … terima kasih om … mak.. sudah membuka mata dan hatiku. 🙂


Pernah ketiban pertanyaan “kapan?” Pertanyaan yang sangat menyebalkan bagi sebagian orang termasuk aku. Tapi begitulah hidup manusia ya, “kapan” itu akan selalu jadi pertanyaan utama. Kapan lulus? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak? Dan banyak pertanyaan menjengkelkan lainnya yang berawalan “KAPAN?”

Pertanyaan yang awalnya ditanggapi dengan candaan, senyum, tawa, waktu berlalu, senyum itu memudar menjadi senyum kecut yang dipaksakan, desahan capek, cemberut, bahkan sakit hati yang ujungnya airmata. Well .. begitulah. Buat kalian yang hobinya bertanya kapan, pertanyaan itu arsanya gampang aja dilontarkan, tanpa efek bagi sang penanya? Tapi pernahkah kalian berfikir pertanyaan itu bisa begitu menyakitkan bagi beberapa orang? Iya … sakit … pake banget!!

Ada masa dimana pertanyaan “kapan nambah anak?” itu kujawab dengan senyum tulus, kurang lebih waktu umur Nadia 4 tahun. Waktu itu sudah kepikiran untuk memulai program kehamilan tapi sambil lalu aja. No pressure at all. Tapi ada masa dimana pertanyaan itu bikin aku mogok dan sakit hati seharian, berawal saat Nadia 5 tahun hingga sekarang ini (7,5 tahun). Dulu waktu Nadia TK ada salah seorang wali murid yang setiap kali ketemu aku, pertanyaan kapan ini yang selalu muncul diawal pertemuan. Dari mulai lucu sampai nyebelin. Pernah suatu hari aku pakai gamis pas jemput Nadia dan langsung ditembak “wah udah isi nih kayanya?!” Yup as simple as that .. dan 1 pertanyaan itu menghancurkan mood ku seharian.

Awalnya cuma pertanyaan kapan yang menggangguku, lama kelamaan rasa iri dan sakit hati setiap kali ada berita tentang kehamilan teman dan saudara muncul. Sekedar mengucap selamat di mulut tapi dihati merasa iri yang teramat sangat bahkan kadang (maaf ya Allah) merasa Allah nggak adil. Menangis tergugu-gugu di tengah doa berharap doa ini suatu hari akan terkabul sambil terus berharap aku bisa menjawab pertanyaan yang seriiiiiiiingggg banget ditanyakan Nadia, “Ma ..kapan aku punya adik?”

Ada juga masa dimana setelah semua usaha yang tanpa hasil itu, ketika hati udah sangat capek, timeline sosmed penuh dengan kabar kehamilan dan foto para bayi menggemaskan. Sosmed ditutup dan muncul lagi berita tentang seorang sepupu yang umurnya 5 tahun dibawahku hamil lagi, untuk keempat kalinya. Ada masa dimana bayi dan kehamilan terasa begitu menjengkelkan. Dan kata terakhir yang terpikirkan hanya menyerah.

Menyerah! Nggak ada lagi keinginan berusaha dan merelakan semuanya seperti apa adanya. Toh masih ada abang dan Nadia yang punya 100% cinta murni untukku. Kami bisa traveling bertiga ke tempat-tempat yang indah, menikmati setiap waktu yang kami punya. Mencoba fokus pada hal-hal yang aku miliki daripada menangisi sesuatu yang nggak aku miliki, sakit hati melihat kebahagiaan orang lain.

ikhlas inside

Trying to let go ….
Trying to see something in a different perspective …
Trying to be happy ….

Dan ikhlas itu susah. Sangat susah. Diluar kita bisa mengaku ikhlas tapi belum tentu di dalam hati. Hebatnya cuma kita yang tahu apa ikhlas kita sudah sampai pada level tertinggi atau sekedar lip service? Dan nggak ada seorang pun yang tahu ketika kita mengaku ikhlas padahal hati teriris-iris. Justru kata ikhlas lah yang terus membuat lubang di hati ini melebar. Ikhlas…. sebuah kata sederhana yang begitu berat untuk dikuasai. Entah berapa banyak buku dan nasihat yang sudah kubaca dan dengar tapi ikhlas masih begitu jauh dari jangkauan.

To see something out of the box
Ada yang bilang ketika kita tidak menyukai sesuatu yang kita lihat kenapa tidak melihat dari sisi yang lain? Ketika di dalam begitu gelap, kenapa kita nggak keluar? Diluar udara lebih segar, cahaya matahari akan membantu kita melihat lebih jelas. New perspective, that’s what i really need.

Ternyata mencari ikhlas kesana-kemari jawabannya ada di dekatku juga. Iya .. jawabannya ada di blogku sendiri. Pas lagi asyik membalas komen teman-teman, ada satu komentar yang sempat membuatku terdiam sesaat. “Enak ya bisa jalan-jalan terus. Masih bertiga aja sih jadi enak ya, kalau aku, anakku banyak. Butuh berapa biaya tuh kalau mo traveling sekeluarga? Hehehe”

al baqarah 216

Mungkin selama ini Allah pengen aku menikmati waktu yang ada untuk traveling. Meskipun dengan budget yang terbatas masih bisa traveling ke banyak tempat, menunjukkan bumi Allah yang luas pada Nadia? Bukankah itu juga doa yang selalu kuminta? Berharap bisa menjelajahi .. mengagumi ciptaan Allah yang luar biasa dan berbagi semuanya dengan Nadia. Nadia …. amanat yang sudah Allah percayakan pada kami. Nadia … my one and only priority.

her smile ... that's all i need :)

her smile … that’s all i need 🙂

Kita bahagia hanya karena sepiring nasi hangat, tempe goreng, dan sambal terasi. Kita makan dengan nikmatnya karena memang itulah yang kita sukai. Menu itu adalah menu favorit kita yang dimasak dengan cinta, tanpa ngutang. 😛 Sepiring steak Wagyu mungkin membuat kita terlihat keren di depan orang lain, tapi belum tentu membuat kita bahagia. Jangan-jangan bayarnya pake kartu kredit alias ngutang heheheh… The point is … Kebahagiaan itu datangnya dari hati kita sendiri. Bukan dari uang, mobil, baju ber merk, ataupun bayi. Kita lah yang menciptakan kebahagiaan itu. Bahagia itu dari dalam hati kita.

Aku nggak pernah menyadari kalau aku sudah merelakan semuanya, mengikhlaskan dengan satu keyakinan utuh kalau Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba Nya kalau bukan karena “tamparan” dari teman-teman. Mencari kebahagiaan kesana-kemari padahal kebahagiaan itu ada di depan mata. Ada di setiap senyuman Nadia. 🙂

Alhamdhulilah sekarang aku sudah bisa ikut tersenyum bersama kebahagiaan orang lain. Kali ini senyum yang tulus. Berharap mereka bahagia dengan apa yang mereka milliki seperti juga aku bahagia dengan apa yang aku miliki. Butuh jutaan pertanyaan “kapan?” sampai aku bisa menjawab dengan senyuman seperti dulu lagi. Butuh senyuman Nadia yang selalu bisa meyakinkanku kalau aku sudah berhasil menemukan sudut pandang baru.

Jadi kapan ikhlas benar-benar kita kuasai? Well … aku bukan ustadz atau inspirator yang terkenal itu. But I can tell you this much …. Kalau kalian sudah merasa hidup terasa lebih ringan, dan tersenyum tulus mendengar kebahagiaan orang lain, dan menikmati semua yang Allah berikan pada kita (baik itu berkah ataupun ujian) maka kita sudah berada pada level ikhlas yang sesungguhnya.

Jadi …. kapan nambah anak lagi?
Allah yang tahu kapan waktu terbaik untuk itu. Sambil menunggu mohon doanya ya temans. 🙂

sunset+REV

Blessful August Giveaways by indahnuria.com

Advertisements

57 thoughts on “Ikhlas Inside

  1. Oh, maaaak I feel you…!!

    Samaaaaa kitaaaa! Sidqi sekarang hampir 9 tahun, dan doi masih anak tunggal aja gitu loooh. Hahahaha. Akunya sihhh, lempeng2 aja, tapiii orang2 yang berkeliaran ((BERKELIARAN)) di sekitar kita yang rempong to the max, hihihi.

    Kereeeeen curhatnya mak! JUARAJUARA JUARAAA!!

    Like

  2. Ikhash itu ilmu tingkat tinggi, yg bisa mencapainya bakal mendapat efek yg luar biasa. sayangnya gak dijual yaa processor ikhlas inside…
    be happy
    let it go
    be thankful
    *peluuuk

    Like

  3. Terkadang ada kehendak Allah yang tidak kita pahami. Tapi disitulah sebenarnya hikmah yang tersembunyi. Yaah bener kata Mak Muna kok nggak hamil-hamil lagi. Mungkin itu cara Allah biar mak Muna bisa puas jalan-jalan dulu kemana -manaaa. Ntar kalau sudah puas tiba-tiba dikasih hamil deh. Yang penting sih doa dan usaha. Betul nggak?

    Like

  4. betul mak… agar kita bisa ikhlas, agar kita bisa bahagia, kita harus bisa melihat dari perspektif yg lain, InsyaAllah hal itu akan membantu kita. Karena segala macam kendala yg kita temui dlm hidup kita, pasti Allah menempatkan hikmah atasnya. Maaf ya jadi sok bijak begini. Makasih sharingnya, bisa membuat mata dan hati saya terbuka. Semoga Allah mendengar permohonannya ya mak, agar Nadia diberikan adik. Aamiin.

    Like

  5. Amiien Ya Allah…semoga hari bahagia itu lekas tiba ya mak saiii..nadia punya adek…Allah akan memberikan yg dibutuhkan oleh makhluknya…jdi mungkin mak Muna memang butuh jalan2 untuk selalu menikmati alam ciptaan Nya..nanti pasti hari indah itu akabn tiba kok…lagian ada Nadia yg akan selalu menemani mak saiii kemanapun berada….

    Like

  6. Kalo aku sedih atau sakit hati gara2 pertanyaan ‘kapan?’, aku sering ngira kalo aku yg salah mbak, aku kira aku yg terlalu sensitif. Ternyata banyak temennya ya… berarti pertanyaan itu memang pertanyaan dg dampak laten pada hati dan perasaan 😀

    Like

  7. Samaan mak… sering orang bertanya kepada sy spt itu.,kapan punya anak lg?, dl sy sering hrs menjelaskan detil dr a-z kr mrk terlalu banyak pertanyaan… skrg ckup sy jwb ” Mgkn sy belum diberi kepercayaan oleh Allah utk merawat anak lagi, jd terserah Allah saja, karena hanya dia yg tahu yg terbaik utk saya.”

    Like

  8. jahhhh kok ya sama ya, yang kepingin saya hamil lagi malah orang lain nih, orang kantor sering nanya kapan nambah adik kapan ini kapan itu, lah saya cuek aja mbak soale memang belum kepingin, saya membesarkan Alfi saja kerepotan apalgi nambah adik, orang tua juga belum mau nambah cucu soalnya masih ketitipan Alfi terus hehe. nanti juga ada waktunya di saat yang tepat ya mbak

    Like

  9. pertanyaan yang gak akan pernah ada habisnya mbak.
    Tapi napa gak ada yang nanya kapan menghadap yang Kuasa ya – kidding, abisnya kan pas jomblo ditanya kapan pacaran. pacaran ditanya kapan nikah. nikah ditanya kapan punya anak. punya anak ditanya kapan punya adeknya. kapan punya rumah. kapan bla bla bla. pertanyaan pamungkas gak pernah ada yang tanya… nanggung gitu, sekalian ditanya.

    Like

  10. Terharu baca ini mak…

    Untuk ikhlas itu memang sangat sulit, ceritanya hampir mirip sama aku, suka sedih pas belum hamil. Apalagi ketika dipojokkan banyak orang belum bisa mengandung, tp alhamdulillah skrang udah 2.

    Mak muna juga semoga bahagia terus ya

    Like

  11. Mbak Muna kapan ngajak aku jalan-jalan.? Hahaha. ..
    Iya saya juga sering dapat pertanyaan kapan yg kalau dijawab sepertinya aku telanjang di tempat umum deh Mbak. Mestinya rasa ingin tahu harus dibungkus dengan kebijaksanaan ya, biar yg dapat pertanyaan kapan itu gak ill feel 🙂

    Like

    • Kebalil x mbak… aku nih yg nunggu2 ajakan jalan dari mbak Evi..aku ngefans berat ma mbak Evi. Anyway sekaramg mencoba lebih santai aja nanggepi pertanyaan kaya gini.. mungkin mereka mau ikut mendoakan juga 🙂

      Like

  12. well… yeah.

    I’m one of the person whose envy with you and your family. Dengan empat anak, life is not that easy. Also, traveling is not that easy. Kita melihat rumput tetangga yang hijau, iri. Kita melihat rumput tetangga meranggas, malah hepi >_<

    Let it be, mbak Muna!

    Like

  13. Masih lebih beruntung mbak nya daripada yg gak dikasih atau belum dikasih anak seperti saya yang sudah bertahun tahun pengen punya tapi gak dapat. Syukuri dan melihat ke bawah barangkali.

    Like

  14. Kapan menikah? sekian tahun (lbh dr 5 tahun) saya menyabarkan diri menjawab pertanyaan tsb dr berbagai pihak (keluarga, teman sekolah, tetangga, teman kerja, dll).

    Dan kini, 2,5 tahun menikah, pertanyaan “kapan” punya anak dr berbagai pihak pun saya hadapi. Menjadi bikin friksi emosi, krn hasil test lab menyebutkan kondisi AMH saya yg di bawah standard.

    Di saat sebagian orang lain relatif lancar, sekolah, kerja, menikah, punya anak dan nambah anak…Saya yakin Allah sdh membekali saya kalau harus menjalani tahap-tahapan hidup ini dgn ikhtiar yg lbh dari yg lainnya. Life is full bless, if be believe it.

    Like

  15. Ikhlas. Satu kata yg sangat berarti ya, Say.. Ttg pertnyn KAPAN itu..aku tahu banget rasanya..dan yg plg menjengkelkan adlh saat ku sdg bljar ikhlas..adaaa sj yg usil mempertanyakan mengapa aku adem ayem saja dg kondisi itu.. Halaaah..
    Semangat ya Say..barter doa kita..hehe…

    Like

  16. Aku mewek mbacanya. Aku sedang me-riset, tulisan yang Mbak Muna pernah rikues. Payahnya aku ini slow writer. Arrgggg …. tulisannya masih 20 persenan.

    Like

  17. ikhlas itu gampang diucapkan…tapi rada susah dijalankan..kalau gak dari hati yg paling dalam…la wong kondisi yg dihadapi sehari hari kadang-kadang aja kita ngomel…heeee.

    Like

  18. Memang menjengkelkan banget orang yang terus bertanya seakan tak memiliki perasaan. Tapi ada baiknya dicoba dengan mencoba pola makan food combining dan rajin berolah raga MOm, buat Mom dan suami juga. Ya.. namanya juga usaha 🙂

    Like

  19. sejak dulu sering mendapat pertanyaan kapan wisuda, saya mulai belajar untuk sehemat mungkin menanyakan ‘kapan’ ke orang-orang di sekeliling saya. karena saya tau gimana efeknya ke orang yang ditanya 🙂

    semoga Nadia segera diberi adik ya mbak. tapi jika pun belum, jangan sampai mengurangi kebahagian kita karena pertanyaan-pertanyaan ‘kapan’ itu 🙂

    Like

  20. Anak itu rezeki. Rezeki itu dari Allah, kapan mau dikasih kita gak tau, jadi pertanyaan kapan itu harusnya jgn tny sm manusia, tp sama Allah hehe.. Mungkin memang harus bersabar ya mbak.. untuk saat ini sedang dapat rezeki travelling jalan2 dulu, nikmati aja dulu… aku malah dari dulu pengen bebas travelling sana sini malah susah… karena udah ada anak kedua.. biaya u travelling jadi makin mahal, msh mikir sekolahnya. Tuh kan?? bisa aja org nanya “kapan traveliing?” hahahaha… masing2 punya kelebihan kekurangan.. walo aku pengen travelling sana sini, tp blm bs, cukup menghibur jg klo baca crt travelling dari para blogger 🙂

    Like

  21. Kalau saya pertanyaan “kapan nikah” itu yang selalu menghantui hihi. Semoga Nadia cepet2 punya adik deh, biar travellingnya nanti makin rame. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s