Kelas BIPA Perdanaku

“Miss … nambah 1 kelas lagi bisa ya? Ada 1 kelas BIPA nih?”

Sebuah pesan muncul di WA ku dari seorang teman yang juga staff UPT. Bahasa di tempatku bekerja sekarang. Yup .. alhamdhulilah nggak lama setelah pindah ke Semarang aku balik lagi mengajar di Unissula. 🙂 Seneng banget bisa ngajar lagi walaupun saat ini aku masih memutuskan untuk jadi pengajar freelancer aja supaya tetep bisa nyambi kesana kemari hehehe. 😛

Anyway, sebenernya waktu tawaran mengajar kelas BIPA (Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing) tahun ajaran di kampus sudah berjalan sekitar 2 bulan, tapi murid-murid ini diberi pengecualian karena mereka memang mahasiswa asing dan baru selesai mengurus visa. Entah kenapa aku yang dipercaya mengajar kelas ini padahal aku belum punya pengalaman mengajar kelas BIPA sama sekali. Mungkin karena dari nama dan darah yang mengalir di tubuhku, mereka pikir aku lancar berbahasa Arab. Sayangnya meskipun berdarah Arab kemampuan bahasa Arabku hanya sebatas Sobakhul Khair, ahlan wa sahlan, wes pokoknya cetek lah. #kemudiannagis dipojokan.

Yup … mahasiswa asing yang akan kuliah di Magister Teknik Unissula ini bukan bulay bermata biru dan berambut pirang. Mereka berasal dari Sudan dan Libya. Tapi karena sudah dipercaya, bismilah deh mencoba pengalaman baru, apalagi menurut temanku wajah mereka di jamin memanjakan mata dan menyegarkan pikiran deh hehehe…… 😛

Nah sayangnya nih, UPT.Bahasa nggak bilang kalau kelas BIPA di mulai secepatnya, which is dua hari setelah tawaran datang. Wuiks …. padahal aku belum ngerti apapun tentang metode pengajaran kelas BIPA. Selama ini terbiasa mengajar bahasa Inggris dan sama sekali nggak kebayang gimana rasa dan caranya mengajar bahasa Indonesia, untuk orang asing lagi. Dan sedihnya lagi I know nothing about Libya except Moammar Khadafi which has already passed away. #lanjutnangisdipojokan

Dan hari yang ditunggu pun tiba. Sumpah aku nervous bukan alang kepalang. Rasanya seperti maju ke medan perang tanpa membawa senjata apapun. UPT. Bahasa hanya memberiku module dan sedikit pengarahan tentang apa saja yang harus diajarkan dalam kelas ini. Masalah yang lain, I’ll be on my own.

Bismilah … akhirnya dengan gemetaran kaki ini melangkah masuk ke ruang eksekusi. Di dalam kelas sudah menanti 12 orang murid baruku, 10 dari Libya dan 2 dari Sudan. Setelah aku memperkenalkan diri gantian mereka yang kenalan, dan beneran cucok boo … #mendadaklupaumur. 😛

Meskipun badan mereka gede banget tapi rata-rata umurnya masih di bawah 30. Mereka kuliah di Indonesia dengan harapan bisa memperbaiki dan memajukan negara mereka setelah rusak cukup parah akibat agresi militer Amerika beberapa waktu lalu. 😦 Cita-cita yang mulia banget ya, semoga nanti sekembalinya dari Indonesia mereka bisa mengamalkan ilmunya. 🙂

Di awal pertemuan aku mulai dari sangat basic, yaitu mengenal dan melafalkan huruf, juga memberikan mereka sebanyak mungkin kosakata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Aku coba menyederhanakan penyampaian supaya mereka paham but it was not easy. Siapa yang bilang kalau bahasa Indonesia itu gampang? Coba deh ngajar bahasa Indonesia, pasti mumet. 😦 Butuh hampir setengah jam untukku menjelaskan perbedaan tidak dan bukan, dan beberapa jenis kalimat dalam bahasa Indonesia yang kadang sering kita remehkan. Belum lagi menerangkan awalan me-, di-, ke, ber- . Rasanya pengen sungkem sama bapak ibu guru bahasa Indonesia yang dulu sering kuanggap nggak penting. 😦 Kesulitanku nggak berhenti disitu. Sebagian dari mereka ternyata nggak bisa bahasa Inggris. Nah loe… Bayangkan gimana susahnya aku harus menyampaikan pelajaran ke mereka kalau bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar aja mereka nggak mudeng. Kadang aku melihat kebingungan di wajah mereka meskipun sudah kujelaskan dengan sangat simple dan pelan. #garuk2tembok

Akhirnya aku di bantu oleh dua orang mahasiswaku yang bisa berbahasa Inggris dan terlihat menonjol kemajuannya di kelas. Kalau aku sudah mentok dan mereka nggak juga paham, selain bahasa tarzan, maka mereka lah yang akan membantuku. 😛 Aku juga memberi mereka tugas menulis jurnal kegiatan mereka setiap harinya. tujuannya nggak hanya aktif berbahasa Indonesia secara lisan tapi juga tulisan, karena kedepannya ada beberapa mata kuliah yang akan disampaikan dalam bahasa Indonesia dan pastinya ada tugas makalah yang harus mereka kerjakan.

 

sebelah kiri Ali dari Sudan, yang kanan Alimahdi dari Libya

sebelah kiri Ali dari Sudan, yang kanan Alimahdi dari Libya

semua dari Libya nih. yg paling kiri (yg ganteng tea hehe) umurnya masih 23 berondong bow.... :P

semua dari Libya nih. yg paling kiri (yg ganteng tea hehe) umurnya masih 23 berondong bow…. 😛

Aku juga mengajak mereka field trip dan menghadiri Cultural Festival yang kebetulan diadakan UPT. Bahasa beberapa waktu lalu. Aku ajak mereka berkenalan dengan mahasiswaku dari Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komunikasi. Hampir semua reaksi mahasiswaku, terutama yang cewek termehek-mehek melihat mereka. “Miss …. ganteng banget Miss. Kenalin aku dong. Miss … fotoin aku sama murdinya yang dari Libya dong.” 😛

Aku juga mengajak mencicipi makanan tradisional Indonesia, dan mencoba pakaian tradisional Korea dan Jepang yang kebetulan di display disitu. Seru deh dan aku seneng melihat antusiasme mereka. Mungkin jadi hiburan mereka juga dan sejenak melupakan rutinitas kuliah mereka. Tapi tetep dong, pulangnya bikin laporan. 😉

Banyak sekali ilmu yang aku dapat dari kelas BIPA ini. Selain tentunya belajar mengajar bahasa Indonesia yang baik dan benar tapi santai pada penutur asing, aku pun belajar banyak hal tentang budaya di Libya dan Sudan. Mereka seringkali bercerita mengenai negerinya, makanan khasnya, dan kebiasaan hidup yang cukup berbeda dengan Indonesia. Aku juga belajar beberapa kosakata bahasa Arab berkat mereka. Masih ada beberapa pertemuan lagi yang akan kita selesaikan bulan ini. semoga setelah lulus kelasku mereka makin lancar berbahasa Indonesia dan bisa mengikuti perkuliahan dengan baik sampai 2 tahun ke depan.

Good luck guys 🙂

nge welfie bareng anak2 Libya. Gurunya keliatan mungil pisan euy :P

nge welfie bareng anak2 Libya. Gurunya keliatan mungil pisan euy 😛

Advertisements

52 thoughts on “Kelas BIPA Perdanaku

  1. Selamat mengajar kembali kak Muna…. murid2nya bener2 memanjakan mata ^___________^
    Aku ngerti deh yg dimaksud bahasa Tarzan… soalnya aku les bahasa Perancis disini juga suka garuk2 tembok… Kwkwkwk Eh kak Muna juga keliatan masih imutzz dibanding murid2nya 😀

    Like

  2. Jadi inget dulu saya pernah ngajar bhs Inggris bwt sesama karyawan yg seumuran malah ada yg lebih senior secara umur dan jabatan. Kangeb masa-masa itu. Mak Muna ikut seneng ya bisa terjun lagi ke dunia mengajar yg dicintai, baca tulisan2nya jadi serasa balik mahasiswi lagi ^_^

    Like

  3. mba yg ganteng udah nikah sekarang sama orang indonesia sekarang hehe, rumahnya di ungaran sekrang .. dia itu temennya temenku..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s