Tueng Dara Baro

Assalamualaikum sahabats πŸ™‚
Pernahkah mendengar istilah Tueng (baca: tung) Dara Baro? Tueng Dara Baro ini adalah sebuah acara atau lebih tepatnya salah satu acara dari sekian banyak prosesi adat yang harus dilakukan mempelai Aceh. Untuk lebih gampangnya, Tueng Dara Baro dalam adat pernikahan Jawa itu seperti ngunduh mantu.

Kalau kebanyakan calon mempelai perempuan heboh mempersiapkan segala kebutuhan dan pernak-pernik untuk acara pernikahnnya, lain halnya denganku. Aku melewatkan segala kehebohan dan keseruan itu karena saat proses persiapan itu aku masih kuliah di Jogjakarta. Sebagai cewek yang hobby belanja dan suka sama pernak-pernik, acara berburu persiapan nikah ini sudah sangat kutunggu-tunggu, tapi apa boleh buat Allah berkehendak lain.

Jadwal kuliah S2 yang padat merayap kala itu membuatku nggak bisa sering-sering pulang ke Semarang untuk mempersiapkan pernikahan. Jadilah semua urusan aku pasrahkan sama mama. Aku nggak ikutan sama sekali kecuali memilih perias pengantin yang kebetulan adalah tanteku sendiri. Model bajunya pun bukan aku yang memilih. Kostum akad nikah dan acara resepsi semuanya adalah hadiah dari tanteku tersayang. Makasih ya tante. :*

my wedding
Singkat cerita aku baru bisa kembali ke Semarang sehari sebelum akad nikah dan langsung di karantina untuk acara berinai (pake Henna atau pacar) bersamaan dengan kedatangan abang dan keluarga dari Aceh. Sayangnya, sekali lagi, nggak seperti kebanyakan pasangan baru yang asyik menikmati honeymoon dan hidup baru mereka, kami cuma punya waktu seminggu. Aku kembali ke kampus di Jogjakarta dan abang kembali kerja di Surabaya.

Yup … seminggu setelah pernikahan kami sudah menjalani long distance marriage dan terus bertahan sampe tahun kelima pernikahan kami. 😦

Eh.. kok jaid ngelantur kemana-mana sih. Jadi apa hubungannya sih tulisan ini sama hadiah yang paling aku inginkan??

Jadi gini ceritanya .. dalam adat Aceh ada prosesi Tueng Dara Baro diadakan untuk mengantar mempelai perempuan ke pihak keluarga lelaki. Nah aku nggak sempat mengalami proses Tueng Dara Baro ini karena harus kuliah, belum lagi jarak Semarang-Aceh yang cukup menguras kantong hehehe. Saat pernikahanku dulu ayah mertua umurnya udah 84 tahun dan beliau keukeuh akan datang ke acara kami meskipun saat itu dalam kondisi yang kurang sehat. Mungkin karena abang anak bungsu ya, jadi ayah nggak mau melewatkan acara kami. Ternyata bener juga, beberapa bulan kemudian ayah meninggal, dan belum sempat ketemu Nadia. 😦

Acara Tueng Dara Baro ini cukup spesial dan agak berbeda dengan acara unduh mantu. Selama apapun usia pernikahannya, kalau mempelai perempuan baru menginjakkan kaki di tanah Aceh maka acara Tueng Dara Baro tetap harus dilakukan. Kalau jaman dulu malah pernikahan dianggap belum sah kalau belum mengadakan Tueng Dara Baro jadi pasangan baru belum diizinkan tinggal serumah. kesian amat yak. 😦


Dulu mamak pernah si nawarin menggelar Tueng Dara Baro saat kami pertama kali pulang ke Aceh. Waktu itu aku nggak mau karena kami pulang ke Aceh pertama kali saat Nadia umur 7 bulan dan aku masih gendut bangeet pasca melahirkan. Malu euy …. πŸ˜›

contoh baju pernikahan dalam adat Aceh. foto di pinjam dari sini

contoh baju pernikahan dalam adat Aceh. foto di pinjam dari sini

Nah sekarang akhirnya nyesel juga. Setiap kali pulang ke rumah mamak mertua di Langsa, aku selalu ngiri melihat foto nikah kakak-kakak dengan baju adat Aceh yang cantik itu. Mamak memang memajang foto nikah semua anaknya di rumah. Abang adalah anak ke delapan dari delapan bersaudara, dan cuma kami aja yang foto nikahnya pakai baju adat Jawa. Dulu aku pengen banget pas acara resepsi pakai baju adat Aceh sayangnya nggak kesampaian dan sampai sekarang keinginan itu belum tercapai. 😦

Aku nggak mau menggelar Tueng Dara Baro besar-besaran kok, cuma pengen foto after wedding aja dengan kostum baju adat Aceh. Cukup Foto di studio aja deh, fotonya pun bertiga sama Nadia. Jadi sekalian foto keluarga juga kan hehehe….. πŸ˜›

Foto kami itu nantinya bakalan mejeng juga di dinding rumah mamak di Langsa. Meskipun jauh kan ada jasa pengiriman yang bisa membantu impianku itu terlaksana. Bingkai fotonya tinggal di bawa aja ke JNE, jasa pengiriman paling terpercaya di Indonesia, terus cuzz di kirim ke Aceh. Ya meskipun ayah dan mamak udah nggak ada, setidaknya keinginan mamak majang foto acara nikah dan Tueng Dara Baro ke delapan anaknya terlaksana. Dan impianku foto pakai baju Aceh pun kesampean. πŸ˜›

Pengennya sih kesampean di bulan Januari ini yang juga bertepatan dengan anniversary kami yang ke delapan. Foto ini akan jadi hadiah spesial di hari spesial ini. semoga tercapai. Doain ya sahabats. πŸ˜‰

10899675_10205708189169387_555056710_n

Advertisements

41 thoughts on “Tueng Dara Baro

  1. Ada kok yang masih memegang adat kalau belum mengadakan tueng dara baro belum bisa serumah. Tapi masih boleh ketemu sih. Cuma ya mempelai wanita belum boleh diboyong sama mempelai pria.

    Like

  2. walopun bukan org Aceh, tp aku 18 thn besar di sana… upacara daro baroe ini lumayan aku kenal :). apalagi di aceh dulu ada pelajaran kebudayaan Aceh.. huhhh, rumit mba… ngapalin step2nya, trus nama2 aksesoris yg dipake dlm adat aceh ;p belum arti dari upacara2 nya.. hahaha…

    wah kamoungmu di langsa? wkt msh tinggal di lhokseumawe, aku slalu ngelewatin langsa tiap kali ke medan lwt jlur darat… dan di langsa ada warung sop tulang sumsum langsa.. itu enaaaak bgttt dan terkenaaal. ^o^. hiks, aku kgn ke langsa 😦

    Like

  3. Pingback: Cerita Lebaran Asyik: Jadi Pengantin Dadakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s